Kontradiksi Dalam Satu Pihak

belakangan ini gue mulai memakai otak analisa gue buat hal-hal yang kadang engga terpikirkan sama orang laen dan akhirnya gue menemukan banyak hal yang sebenarnya “lucu” karena seolah-olah menipu masyarakat awam.

misal kita ambil satu topik : “Global Warming”

1. Media Sekolah
Katanya : “Ayo anak-anak, gunakan kertas sebaik mungkin untuk mencegah pemanasan global.” atau setiap kali disuruh bikin poster, pasti tentang “Stop Global Warming”

Faktanya : Sadar ngga sadar, sekolah merupakan salah satu organisasi formal yang membuang kertas dalam kuantitas besar secara tidak langsung. Tidak percaya ? Soal ulangan umum contohnya. Selalu dicetak dalam kertas buram yang baru, dan lalu setelah selesai ujian, sebagian ada yang dibagikan kepada siswa lagi lalu sisanya entah kemana. Setiap ada tugas yang diketik dan lalu harus di print. Siswa secara tidaklangsung diwajibkan menggunakan kertas baru, dan apabila menggunakan kertas bekas (kertas yang hanya terpakai satu halaman, sedangkan belakangnya kosong, layak pakai -red) guru merasa tidak dihargai karena dianggap sebagai “sisa”.

Mengapa sekolah yang sebegitu hebatnya dalam pencegahan Global Warming, tetapi malah melakukan yang tidak seharusnya ? Ini baru sebagian dari sekian banyak kertas yang sekolah keluarkan lalu dibagian ke siswa dan akhirnya menjadi sampah bagi siswa.

2. Media Pemerintahan
Katanya : “Mari tanam satu pohon untuk anak cucu kita”

Faktanya : Pemerintah baru saja mengeluarkan program baru yang dibilang di sana kalau buku itu nantinya hanya akan berlaku untuk satu tahun mata pelajaran saja, dan lalu untuk tahun ajaran berikutnya, buku tahun ajaran sebelumnya tidak dapat dipakai. Gue sendiri engga ngerti kenapa pemerintah ngeluarin program kaya gini. Dan yang makin jadi pertanyaan adalah, sekali lagi, kemana kertas bekas itu ? Apakah di daur ulang ? Kalau di daur ulang terus, makin jelek dong kertasnya. Kenapa pemerintah tidak bisa berpikir secara lebih luas gitu, walaupun dibilang orang tua tidak akan dibebani lagi oleh biayanya.

Ini beritanya :

Jakarta–

Buku teks pelajaran jenjang sekolah dasar (SD) Kurikulum 2013 akan berlaku untuk sekali pakai. Pada tahun berikutnya, pemerintah akan mencetak buku baru. Pencetakan buku ini akan dilakukan setiap tahun.

“Buku akan dicetak tiap tahun karena buku untuk SD tidak bisa digunakan untuk (peserta didik) berikutnya karena dicoret-coret,” kata Kepala Pusat Kurikulum dan Perbukuan Badan Penelitian dan Pengembangan Kemdikbud Ramon Mohandas di Kemdikbud, Jakarta, Rabu (5/6/2013).

Ramon mengatakan, evaluasi peserta didik dilakukan dengan menilai portofolio. Pengukuran, kata dia, dilakukan secara otentik atas apa yang mereka lakukan dan dinilai secara kualitatif. “Semua aktivitas mereka dikumpulkan oleh guru dan bisa dilihat prosesnya dengan tugas yang diberikan,” katanya.

Ramon menyampaikan, pemerintah akan mencetak buku dan dibagikan kepada sebanyak jumlah peserta didik dan diberikan secara gratis. “Orang tua tidak akan dibebani. Dicetak gratis,” katanya.

Ramon mengatakan, untuk jenjang SD kelas 1 disiapkan sebanyak 10 buku untuk dua semester. Dia menyebutkan, untuk kelas 1 ada sebanyak delapan buku tema ditambah dengan buku agama. Namun, kata dia, buku yang dicetak saat ini baru untuk semester 1 sebanyak 5 buku masing-masing terdiri atas satu buku agama dan empat buku tema.

“Seharusnya untuk satu tahun kelas 1 ada 8 tema dan kelas 4 ada 9 tema. Tapi sekarang yang dikembangkan baru 4 buku pertama saja. Buku semestar kedua dikembangkan setelah ini selesai semua dan akan digunakan Januari tahun depan,” kata Ramon.

Adapun buku untuk jenjang SMP meliputi agama, PKN, bahasa Indonesia, matematika, IPA, IPS, seni budaya, prakarya, bahasa Inggris, serta pendidikan jasmani, olah raga, dan kesehatan. Sementara untuk jenjang SMA ada sembilan mata pelajaran yang wajib, tetapi yang dicetak baru tiga mata pelajaran yaitu sejarah, bahasa Indonesia, dan matematika.(ASW)

Sumber : http://kemdikbud.go.id/kemdikbud/berita/1409

 

Lalu ini tanggapan gue waktu gue baca di forum Kaskus :

makin aja kertas dibuangin.. salah satu “pemakai & pembuang” tidak bertanggung jawab itu sebenernya sekolah. tiap taun aja harus beli buku.

banyak gaya pemerintah bilang” Global Warming, Selamatkan Pohon, tapi bikin program kaya gini. harusnya pemerintah udah siap dong sama pro kontra masyarakat awam kaya ane.

kertas buku itu kalo setaun udah beres, dikemanain ? mau jawab di daur ulang ? bilang berapa dana buat daur ulang ? bilang berapa dana buat produksi ? dan harganya gratis, duit negara terus aja nih dicorat coret siswa yang kadang juga engga bisa jadi penerus bangsa.

harusnya yang dibenerin itu bukan teknisnya, tapi sistemnya. gabisa gitu dipikirin gimana caranya buat bikin serba digital, terutama buat GOLONGAN MENENGAH KE ATAS, ga aneh koo kita liat anak” menengah ke atas bawa” tab. jadi buku bentuk kertas itu buat golongan yang maaf, menengah ke bawah aja. bisa lebih efektif kan. ebook itu bisa dipake berkali-kali, dan gamakan space gede banget koq.

ini malah pemerintah hayooo aja bikin buku kertas biar kertas sampahnya banyak, terus sok sokan bikin slogan, selamatkan bumi, selamatkan pohon, jangan buang kertas sembarangan, gimana mau jalan, wong situ yang bikin program kaya gini.

ini opini saya pribadi. terima kasih.

Link : http://www.kaskus.co.id/post/51b1a55741cb177d3a00000f#post51b1a55741cb177d3a00000f

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s