TPB : Kejam atau Adil ?

Selalu tentang TPB, ya tentu, karena saya seorang mahasiswa tingkat 1 yang segera beralih ke tingkat 2. Sebagai perkenalan, ITB memberlakukan sistem TPB (Tahap Persiapan Bersama) bagi mahasiswa tingkat 1 yang terdaftar sebagai warga baru ganesha. TPB ini wajib diikuti semua mahasiswa dari semua fakultas/sekolah dengan mata kuliah yang cenderung sama (ada sedikit penyesuaian terkait fakultas/sekolah tertentu) setidaknya pasti memuat Kalkulus, Fisika Dasar, Kimia Dasar, Tata Tulis Karya Ilmiah, Pengantar Rekayasa dan Design, Olahraga, ditambah mata kuliah hasil penyesuaian tadi.

Semua mahasiswa S1 diterima di ITB sebagai warga fakultas/sekolah, tidak langsung jurusan — kecuali mereka yang masuk jalur Peminatan SNMPTN sebetulnya langsung diterima di jurusan — namun harus melewati tahap TPB ini dan mengisi kuesioner mau masuk jurusan apa kelak sebagai urutan : misal dalam fakultas tersebut ada 4 jurusan, maka mahasiswa tersebut perlu mengisi jurusan yang sangat diminati di pilihan 1 sampai yang kurang diminati di pilihan 4. Kuesioner sendiri diadakan tiga kali, pertama saat semester 1, sisanya pada semester 2, namun rumor selalu mengatakan bahwa kuesioner  3 yang paling mempengaruhi penjurusan tersebut karena dianggap keputusannya telah final.

Tiap-tiap fakultas/sekolah memiliki satu atau dua jurusan yang biasanya peminatnya melebihi daya tampung (kuota) jurusan tersebut. Lalu bagaimana bagi mereka yang tidak diterima di pilihan 1 pada kuesioner yang bersangkutan ? Jawaban paling logis adalah yang bersangkutan akan diterima di jurusan pilihan 2 pada kuesionernya, dan seterusnya. Seleksi untuk menentukan mereka yang masuk atau tidak di jurusan tersebut dilihat dari Indeks Prestasi (IP) tertinggi mahasiswa TPB untuk masuk jurusan tersebut. Misalkan ada suatu jurusan memiliki kuota 20 orang, namun yang mendaftar 25 orang, yang diterima dijurusan tersebut adalah 20 orang dengan IP tertinggi, dan 5 orang lainnya harus ditempatkan di jurusan lain yang belum tentu disukai yang bersangkutan

Poin pribadi saya, memang benar suatu hal yang sangat baik dengan mengajarkan mahasiswa untuk belajar dengan giat guna masuk ke jurusan yang diminatinya, namun tidak semua orang baik dalam segala hal. Saya sendiri mahasiswa FMIPA (FMIPA ITB memiliki 4 jurusan, Matematika, Fisika, Kimia, Astronomi) yang memiliki minat pada jurusan kimia, untungnya jurusan kimia tidak memerlukan seleksi ketat untuk masuk, sehingga dengan IP saya yang seadanya pun saya bisa masuk ke jurusan. Bukan berarti jurusan kimia jelek, namun peminatnya tidak sebanyak jurusan lain.

Kembali lagi ke mata kuliah utama TPB : Kalkulus, Fidas, dan Kidas. Bagaimana kabar mereka yang ingin masuk matematika karena memang sama sekali tidak bisa fisika dan kimia namun misalnya matematika merupakan jurusan dengan peminat terbanyak tentu akan terjadi sikut-menyikut IP ? Mereka yang memang tidak baik dalam fisika dan kimia harus berjuang setengah mati untuk mempertahankan IP saat TPB guna penentuan jurusan kelak. Bila mereka ternyata harus ditempatkan di jurusan lain (karena IP saat TPB kurang baik karena ada Fidas dan Kidas) misalnya kimia yang mereka sangat tidak sukai, bagaimana kelak ?

Secara personal saya mengatakan ini kejam, namun adil. Kejam saat kita memandang mereka yang harus ditempatkan di jurusan yang tidak mereka minati terkendala IP TPB, namun cukup adil bila melihat mereka yang berjuang untuk ditempatkan di jurusan. Selalu ada potongan kata-kata ini sejak pertama masuk ITB, “IP itu bukan segalanya” namun segera saya melihat bukti kebohongan itu setelah kurang lebih setahun kuliah di ITB. Melihat mereka yang harus ditempatkan di jurusan lain, melihat mereka yang cukup gembira dengan IP mendekati sempurna, melihat mereka yang pasrah akan hari esok, melihat mereka yang tabah akan keputusan otoritas.

IP memang bukan segalanya, karena dibalik IP tak lain merupakan evaluasi diri akan kerja keras, ketekunan, motivasi selama satu tahun kuliah — dengan anggapan semuanya didapat secara jujur — dan mereka layak mendapatkan hasil kerja keras mereka selama TPB. Semuanya mendapat kemampuan dan kesempatan yang sama, saat anda diterima di ITB, seharusnya anda pun mampu untuk bertahan dan keluar secara terhormat dari ITB. Hal berbeda terletak pada diri kita sendiri, keputusan kita sendiri, langkah kita sendiri yang kita ambil setiap hari memasuki kelas. Semangat – membedakan satu mahasiswa dengan lainnya yang berbuah saat penjurusan ini.

Tuhan sungguh memiliki jalan-Nya sendiri atas kita. Sebagai manusia, tak bisa kita menyelami jalan cerita adi kodrati dengan otak fana. Semoga penjurusan ini menjadi refleksi sekaligus batu loncatan dikemudian hari.

Christopher Chandra

KI ’15

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s