Pendidikan Moral – OSPEK, MOS, PPDB

Hari ini, kebanyakan siswa di Indonesia telah memulai tahun ajaran baru. Artinya, ada angkatan yang berpindah sekolah dan tentu sudah menjadi kewajiban untuk melakukan apa yang disebut OSPEK, MOS, atau PPDB. Intinya seperti ospek, namun penamaannya saja yang berlainan (seperti UMPTN dengan SBMPTN). Alasan menulis tentang hal ini, karena banyak hal yang “baru” dalam teknis pelaksanaan ospek ini. Tulisan ini opini saya berdasarkan fakta.

Mengejutkan, baru-baru ini Kemendikbud mengeluarkan aturan bahwa kakak kelas tidak boleh terlibat dalam acara ospek ini, dan kegiatannya tidak boleh diluar sekolah yaitu  Permendikbud Nomor 18/2016. Tentu dengan berbagai macam alasan, terutama mengurangi tindak kekerasan, perpeloncoan, yang biasa dilakukan kakak kelas “katanya” dengan motif balas dendam. Mengapa tidak boleh diluar sekolah ? Karena “katanya” kegiatan-kegiatan yang “katanya” berdampak negatif itu kebanyakan dilakukan diluar sekolah – hal ini sama saja seperti berkata kalau kegiatan diluar sekolah berarti sekolah tidak tahu. Dangkal.

Hal ini mungkin bermula pada kasus IPDN dahulu, lalu karena menteri pendidikan dan kebudayaan kita kali ini lebih “bekerja” sehingga melihat banyaknya laporan orang tua siswa mengenai anaknya yang “disiksa” saat ospek sehingga mengeluarkan permendikbud tersebut. Sayangnya, untuk SMA saya sendiri (karena saya tidak tahu persis kondisi SMA lain) dari sejak saya masuk SMA kegiatan seperti itu sudah tidak ada. Tidak ada penghinaan, tidak ada marah-marah yang berlebihan, tidak ada hal fisik yang terlalu berat. Saya tidak tahu untuk kebanyakan SMA, namun saya rasa bila tidak se-Indonesia menggugat berarti segalanya masih dalam batas normal. Titik beratnya, bukan pada pelaku ospek, namun tentang bagaimana objek ospek ini menerima.

Cara berpikir yang salah dari orang tua dan siswa juga sangat membantu penghambatan nilai moral disampaikan pada siswa. Dimarahi sendikit, lapor orang tua, orang tua menuntut sekolah. Menyedihkan. Saya saat kelas 3 SD dihukum guru karena tidak membuat PR, dan kaki saya dipukul dengan penggaris kayu. Saya lapor tentu ke orang tua sambil memelas, namun respon orang tua saya malah seperti mendukung guru saya, karena memang saya pribadi yang salah dan saya kira memukul kaki dengan penggaris kayu bukan penyiksaan fisik, namun pembangunan moral.

Kegiatan ospek diluar sekolah diperlukan, agar anak tak merasa dalam zona nyamannya melulu. Perlu diperkenalkan sedikit dunia luar. Ini kok malah dilarang. Kalau alasan kekerasan yang berlebihan, saya setuju tentunya. Masalahnya kan ini acara sekolah, bukan artinya tenaga pengajar tidak ada ditempat saat pelaksanaan. Ada kontrol di sana, bukannya semata-mata balas dendam dan meneruskan lingkaran setan. Bila dikatakan tenaga pengajar yang melakukan kekerasan secara tidak wajar, saya rasa tenaga pengajar cukup cerdas untuk melakukan segala tindakan kepada anak didiknya.

Semakin tidak ditegur tegas, semakin menjadi. Guru mencukur rambut siswa yang gondrong dipermasalahkan sama orang tua. Guru yang hendak melaksanakan shalat Duha terkena cipratan dari 2 muridnya lalu melakukan tindakan mencubit, dituntut, dibui. Guru menghukum muridnya yang tidak melaksanakan shalat Duha (betul sifatnya sunnah, namun kan dalam jalan mendidik) dituntut. Ajaib. Berbekal Undang-Undang Perlindungan Anak, orang tua berkacamata kuda menuntut guru tanpa berpikir panjang.

Misal saya berkata tidak sopan kepada seorang guru. Guru tersebut menjewer saya hingga merah. Saya melapor kepada orang tua, dan orang tua melaporkan guru tersebut ke pihak berwajib. Singkat cerita guru tersebut kalah, dan harus dibui. Oke dari sisi kekerasan standar kita berbeda-beda, namun dari sisi moral, saya tentu kedepannya akan berpikir bahwa berkata tidak sopan kepada guru adalah hal yang benar, buktinya guru itu dibui. Amoral bukan ?

Sumber berita utama :

  1. http://www.cnnindonesia.com/nasional/20160713111824-75-144456/kemdikbud-untuk-apa-hitung-semut-dan-butir-beras-di-mos/ terakhir diakses 18 Juli 2016
  2. http://regional.kompas.com/read/2016/07/01/17403801/sambudi.pak.guru.yang.disidang.karena.mencubit.siswanya terakhir diakses 18 Juli 2016
  3. https://www.brilio.net/duh/4-kasus-sepele-guru-vs-murid-yang-berakhir-miris-bikin-geram-deh-160526v.html terakhir diakses 18 Juli 2016

Sumber tambahan :

  1. http://belitung.tribunnews.com/2016/05/17/dituding-cubit-pelajar-smp-anak-polisi-guru-ini-masuk-bui terakhir diakses 18 Juli 2016
  2. http://regional.liputan6.com/read/2516320/guru-cubit-murid-dewan-pendidikan-harap-solusi-bukan-pidana terakhir diakses 18 Juli 2016
  3. http://www.merdeka.com/peristiwa/sidang-kasus-guru-cubit-murid-di-sidoarjo-kembali-digelar.html terakhir diakses 18 Juli 2016
  4. http://regional.kompas.com/read/2016/07/04/06490091/Kasus.Guru.Cubit.Siswa.Berakhir.Damai.Pelapor.Bersedia.Cabut.Laporan terakhir diakses 18 Juli 2016
  5. http://www.suaranetizen.com/2016/05/guru-dipenjara-gara-gara-cubit-siswi.html terakhir diakses 18 Juli 2016
  6. http://www.pedidikanindonesia.com/2016/07/kemdikbud-osis-dilarang-ikut-campur.html terakhir diakses 18 Juli 2016
  7. http://teddyindrakps.blogspot.sg/2016/05/juknis-bos-terbaru-permendikbud-no16.html terakhir diakses 18 Juli 2016

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s