Parkir ITB

Kira-kira sebulan lalu, topik parkir menjadi bahan bicaraan semua mahasiswa ITB. Entah anda membawa kendaraan atau tidak, entah anda pro atau kontra, hal ini menjadi isu hangat yang cukup menggelitik menurut saya. Tulisan seorang mahasiswa, yang setiap harinya membawa motor ke kampus, dan tulisan ini cukup panjang.

Semua bermula karena adanya perubahan tender penyedia jasa, dari ISS menjadi AutoParking. Tepat 1 September 2016 pergantian tender terjadi, dan dari sana semua kekacauan mulai terjadi. Tidak ada sosialisasi secara resmi, malah saya mengetahui ini sebelumnya dari seorang petugas ISS yang biasa saya lihat, dan beliau berkata bahwa besok (1 September) akan terjadi perubahan tender. Sebagai mahasiswa yang tak mendapatkan sosialisasi tentang perubahan tender ini secara resmi, ya tentu saya pergi ke kampus dengan waktu yang sama alias ngepas – dan sialnya saya saat itu ada kelas pagi (jam 7) yang bersamaan dengan jadwal TPB masuk.

Suasana sangat kacau, antrian parkir dari gerbang sipil cabang pertama mengular panjang sampai dekat gerbang depan dan cabang satunya mengular hingga membuat taman sari macet. Hal serupa terjadi dengan gerbang SR, antrian memanjang dari arah gerbang depan, arah warpas dan memotong jalan dari jalan Ciungwanara. Mengapa ? Karena mesin tiket otomatis tidak berfungsi dan semua parkir sistemnya manual alias tiket ditulis tangan oleh petugas lalu di sobek dan diberikan pada pengguna parkir.

Saat ditanya, petugas hanya bilang, “Iya mas, ini kan baru ganti tender jadi sistemnya juga belum siap.” “Terus kapan dong mas siapnya,” saya agak geram setelah mengantri 15 menit, “Sebulanan lagi lah mas baru siap semuanya.” Kesalahan pertama saya adalah, saya lupa tidak menanyakan nama petugas yang bersangkutan, sehingga kesannya kurang kredibel tulisan ini.

Hari-hari selanjutnya masih tetap kacau, tetap mengular ke segala arah dan membuat sekitaran Jalan Ganesha – Jalan Taman Sari yang tidak dilintasi anak ITB saja menjadi macet. Saya berusaha maklum sekaligus bingung akan hal ini. Maklum karena AutoParking ini tender baru, dan bingung mengapa pergantian tender dilakukan ditengah-tengah hari kuliah bukannya weekend saat volume kendaraan tidak terlalu banyak. Ditambah tarif parkir yang membuat kami cukup geram, 5 ribu rupiah perhari (sebelumnya 2 ribu) dan tarif menginap yang kabarnya mencapai 20 ribu rupiah.

Bersyukur atas tindakan teman-teman yang melek aktif akan hal ini, mengadakan semacam demonstrasi (KBBI : pernyataan protes yang dikemukakan secara massal; unjuk rasa)  di depan gerbang depan dengan memarkir motor di area setengah lingkaran yang sebelumnya tidak diperbolehkan untuk parkir. Foto terlampir. Kemudian siang menjelang sore hari itu, tarif parkir telah berubah menjadi 2000 kembali.

Hari ini, alasan saya menulis tentang parkir tak lain karena kekecewaan terhadap tender baru yang tak kunjung memperbaiki sistemnya. Sudah sebulan lebih, untungnya ada progress berarti : mesin tiket otomatis beberapa kali dapat digunakan walaupun sering error. Namun, kesigapan petugas untuk mengarahkan mahasiswa untuk parkir ditempat yang tepat masih tidak ada. Seringkali parkiran dalam masih kosong namun di bagian tengah parkiran telah ada yang parkir paralel. Memang semua akan terisi penuh pada waktunya, namun hal ini membuat lokasi parkir tidak efektif, ditambah bila ada yang parkir paralel dan di kunci stang. Bila saya membandingkan dengan tender yang lalu, ada petugas yang tegas untuk menyuruh mahasiswa parkir pada tempat yang tepat – guna memaksimalkan lahan dan terlihat mana saja yang masih kosong.

Belum lagi kalau mesin tiket error, kami tidak tau harus memberi tahu ke siapa karena sering kali pos petugas parkir kosong, dan bila ada pun petugas kelabakan untuk membenarkan mesin yang akhirnya ‘buntu’ dan petugas akan mengambil tiket dengan menulis manual lagi plat nomor kendaraan. Entah apa kata mereka yang diusir dari kelas karena terlambat 1-2 menit. Saya tidak tahu apa kabar mereka yang jatah absennya habis hanya karena hal sepele seperti ini. Kalau saja petugas parkir bisa bicara pada dosen, kalau.

Kekecewaan saya juga bertambah, saat mengetahui salah satu alasan tender AutoParking menang adalah karena sharing profit-nya lebih tinggi. Saya sungguh heran, untuk sekelas ITB kok masih memikirkan sharing profit dari parkiran ketimbang service dari tender yang bersangkutan.

Lampiran :

dihimpun dari berbagai grup, official account, dan personal chat LINE.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s