“Gejolak Massa”

Sedikit cerita terkait “gejolak massa” yang mungkin belum dijawab oleh MPA di grup FB, saya sebagai ketua panpel akan mencoba menjawab. Lebih kurangnya mohon dikoreksi, sila menikmati. Tentu tidak objektif, tentu mungkin tak lagi netral, rangkaian PEMIRA AMISCA 2016 telah berakhir saat saya membuat tulisan ini.

Semua gejolak massa AMISCA pada pemira ini bermula saat pelaksanaan hearing 3 untuk cakahim yang berbentuk debat, dilaksanakan di amphiteather GKU Barat pada tanggal 9 Desember 2016. Kami menjanjikan mulai jam 18.45, namun sesuai tata aturan semua cakahim dan timsesnya perlu hadir 15 menit sebelum acara dimulai, yaitu 18.30. Sayangnya, saat waktu telah menunjukkan 18.30 ketua komisi disiplin (komdis) saya, Diah Zn’15, tidak melihat keberadaan salah satu timses cakahim #1 (Rifki Pd’14). Hal ini mengakibatkan cakahim yang bersangkutan mendapatkan sanksi poin. Kesalahan kami yang pertama adalah kami tidak memiliki sistem pencatatan waktu / absensi yang disertai timestamp, dan pengambilan keputusan hanya didasarkan atas mata komdis saja dan tanpa konfirmasi ke cakahim yang bersangkutan.  Poin masing-masing cakahim saat itu hanya tersisa 35 dari 100, dikarenakan di hearing-hearing sebelumnya juga tidak kuorum dan berakhir hearing bebas. Cakahim #1 saat itu kami kurangi poinnya sebanyak 5 poin sesuai tata aturan menjadi 30.

Saat itu, hanya kuorum angkatan 2015 saja yang memenuhi. Sebagai sanksi kuorum 2013 dan 2014 yang tidak terpenuhi, maka sesuai tata aturan juga poin cakahim kami kurangi 30 poin yang mengakibatkan cakahim #1 poinnya nol, alias diskualifikasi dan menyisakan #2 dan #3 untuk melanjutkan rangkaian acara PEMIRA. Barulah saat itu, massa menjadi sangat proaktif bertanya kepada panitia. Ada yang menyalahkan sistem yang ada, sistem yang telah disetujui massa pada saat audiensi 4 jilid, ada juga yang akhirnya meminta panpel untuk berunding dengan MPA sebagai ‘pemberi tugas’. Kesalahan kami yang kedua adalah tidak konfirmasinya kami satu sama lain, sehingga sempat terjadi penyampaian informasi yang salah oleh komdis kami dan harus diralat dua kali.

Atas saran dari MPA, kami meminta keterangan dari cakahim yang bersangkutan dan ketua timses yang bersangkutan terkait apakah memang sudah melihat timses yang kami anggap terlambat datang pada jam 18.30, dan keduanya menjawab tidak. Keputusan kami bulat, meskipun dinilai ada kesalahan sistem. Rangkaian acara PEMIRA dilanjutkan dengan 2 orang cakahim dan 1 orang casenat.

Kami panitia PEMIRA, mewajibkan cakahim untuk melakukan kampanye langsung. Menurut informasi yang kami dapat, ketiga cakahim dan casenat beserta timses masing-masing, telah menyediakan waktu untuk melaksanakan kampanye langsung di hari Sabtu, 10 Desember 2016, sehari setelah hearing 3 yang akhirnya gagal namun massa memilih untuk melaksanakan rangkaian acara sesuai keingingan panitia. Diakui, oleh kedua cakahim yang tersisa, publikasinya minim – dengan alasan takut mengganggu fokus massa sebelum hearing 3.

Jam 9 pagi mereka memplotkannya pada rundown, dan telah melaporkannya kepada panitia sesuai prosedur. Kesalahan kami yang ketiga adalah kami tidak datang tepat waktu saat jam 9 pagi itu, dan kesalahan saya pribadi yang memang baru dapat hadir jam 11. Perwakilan panitia yang datang adalah Kadiv Komdis (Diah Zn’15) dan Kadiv Acara (Glory Sm’15) dan datang jam 9.20. Kedua perwakilan tersebut melihat tidak ada massa yang datang sama sekali, dan memutuskan secara sepihak untuk membubarkan kampanye tersebut. Namun, dari panitia menyatakan tidak adanya pengurangan poin bagi setiap cakahim yang terlibat, karena dianggap tujuan awal kampanye tidak tercapai karena ketidakadaan massa.

Sampai di sini, saya yakin anda telah mulai gusar, merasa panitia tidak netral, merasa panitia ‘lembek’.

Malam harinya, banyak orang yang cukup ‘menekan’ kadiv komdis saya dengan segala alasan, dan ada juga yang berniat melaporkan pelanggaran secara tertulis.  Karena saat itu Diah merasa tidak enak bila diobrolkan di chat, sehingga kami memplotkan waktu jam 1 siang keesokan harinya membuka forum khusus untuk membahas keputusan panitia ini.

Jam 1 siang, kami standby di himpunan, menunggu orang-orang yang berniat ‘melaporkan’ dan ‘ngobrol’ terkait keputusan panitia. Hadir ring 1 panitia, satu orang MPA (merangkap moderator) dan pihak penggugat. Diskusi dilakukan sangat alot, sehingga di akhir forum ‘penggugat’ walk-out dari forum semuanya, dan keputusan forum saat itu adalah tidak mengurangi poin. Pembahasan detailnya tidak saya masukkan karena berpotensi adanya pemikiran-pemikiran liar yang tak berdasar dan diluar kami panitia untuk mengklarifikasinya satu per satu.

Malam itu, ketua MPA beserta semua anggota MPA membuat semacam multi-chat melalui platform Line dan mengundang saya, Glory dan Diah.  Ketua MPA ingin menanyakan keberlangsungan forum tadi siang, karena tidak dapat hadir. Namun sayang, karena saya baru dapat waktu kosong saat malam, mengakibatkan Glory dan Diah tak lagi aktif di Line. Begitu juga anggota MPA, tidak semuanya aktif ‘bersuara’. Arah chat tidak terkontrol, penuh emosi, dan tak lagi sehat. Kesalahan saya pribadi, saya jujur terbawa emosi. Poin pentingnya, MPA merasa keputusan panitia untuk tidak mengurangi poin tidak tepat, sehingga MPA ‘membubarkan’ panitia pelaksana karena dianggap ‘melenceng’. Sedikit informasi, yang tersisa ‘cuap-cuap’ di grup chat tinggal saya dan salah satu anggota MPA. Saya sendiri sadar, ini atasan saya, sehingga saya sesegera mungkin memberikan informasi kepada panitia yang lain bahwa kita telah dibubarkan.

Namun sayang, keesokan harinya diadakan forum lagi oleh MPA dan dihadiri oleh 3 orang MPA, cakahim, casenat, timses, saya, dan Glory. Tujuan forum yang awalnya saya kira adalah semacam ‘sosialisasi’ kepada cakahim yang bersangkutan, bahwa PEMIRA kali ini gagal dan akan diulang. Namun, saat inilah saya benar terkejut. Pembubaran panpel, yang kami kira adalah keputusan MPA, ternyata tidak. Keputusan itu hanya diambil oleh salah satu anggota MPA yang saat malam sudah sama-sama ‘batu’ dengan saya. Singkat cerita, anggota MPA yang bersangkutan walk-out dari forum, dan menyisakan hanya 2 orang MPA dari angkatan 2014.

Tujuan forum ternyata adalah untuk mengklarifikasi, apakah seharusnya poin cakahim dikurangi atau tidak. Saat itu saya cukup geram, mengetahui keputusan yang kemarin bukanlah keputusan MPA. Terkesan main-main. Saat mereka membahas teknis, saya tak diizinkan bersuara karena saya tidak hadir langsung kemarin, sehingga saya ‘minggat’ ke himpunan.

Saat saya kembali, forum telah ada di termin terakhir. Informasi yang saya dapat adalah, MPA sempat menganggap panpel tidak netral dalam mengambil keputusan terkait kampanye kemarin karena sempat terlihat adanya pembicaraan antara timses dan panpel. MPA mengira keputusan diambil setelah kami diskusi, kenyataannya tidak. Keputusan diumumkan, baru cakahim sibuk mendatangi panitia saat itu (Diah Zn’15). Setelah melewati diskusi sebelumnya, akhirnya MPA setuju bahwa seharusnya tidak ada pengurangan poin. Sudah ditanyakan sebelumnya, bahwa keputusan MPA saat ini akan menjadi suara MPA, bukan suara perorangan.

MPA memutuskan bahwa panpel belum dibubarkan, dan PEMIRA dilanjutkan karena tidak ada pengurangan poin bagi cakahim yang bersangkutan.

Tulisan ini mungkin banyak mengandung kesalahan, banyak yang menyinggung salah satu pihak atau banyak pihak.

Salam,

Christopher Chandra (Lu’15)
Ketua Panitia PEMIRA HMK ‘AMISCA’ ITB 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s