Minke, Annelies.

Eropa, Indo, Pribumi.

Istilah ‘benteng’ mungkin baru saya dengar belakangan ini. Bila saya boleh mengambil arti, kiasan ‘benteng’ ini merupakan suatu hal yang tidak bisa dilanggar/dilewati, biasa dalam konteks asmara yang saling berbeda agama. Kita hidup dalam kekentalan budaya timur, Indonesia, negara berlandaskan Ketuhanan, atau bila berkenan saya sebut negara berlandaskan agama.

Menariknya, dalam ajaran agama tertentu – lebih dari satu agama – diajarkan bahwa mencari pasangan hidup haruslah sepaham, atau secara eksplisit harus satu agama dengan kita. Dari paham itulah muncul ketidakleluasaan atau pengekangan bila terjalin hubungan asmara antara dua personal berbeda keyakinan. Itulah kondisi kita sekarang.

Berbeda dengan apa yang dikisahkan Pramoedya Ananta Toer (Pram) dalam bukunya bertajuk ‘Bumi Manusia’ yang mengisahkan adanya ‘benteng’ yang diceritakan secara luar biasa. Benteng yang dimaksud disini adalah perbedaan ras, dan masalah asimilasi. Minke, tokoh utama dalam buku ini dikisahkan sebagai seorang pribumi dan merupakan siswa HBS. Siswa HBS kebanyakan adalah putra-putri orang Eropa, dan sedikit pribumi putra-putri para pejabat setempat. Menulis, membaca, berbicara dalam bahasa Belanda adalah kelebihan siswa HBS, padahal dikala itu, sangat sedikit pribumi yang dapat menulis dan membaca bahasa Belanda dengan baik.

Di lain tempat, adalah seorang anak bernama Annelies. Putri Tuan Mellema dengan Nyai Ontosoroh. Sebutan ‘nyai’ tentu merujuk pada status seseorang sebagai gundik, yang tentu pribumi. Tuan Mellema adalah seorang Eropa, yang telah memiliki istri dan anak sah di Belanda, lalu menggundik Nyai Ontosoroh dan memiliki dua anak, yaitu Robert dan Annelies. Mellema sungguh berhati baik pada awalnya, ia membuat Nyai menguasai tata cara Belanda dengan baik, bahasa Belanda, hingga gaya hidup Eropa yang membuatnya tidak seperti pribumi. Hal ini menyebabkan terbangunnya tokoh Nyai Ontosoroh menjadi sangat luar biasa. Manusia langka, seorang pribumi dengan segala sesuatu Eropa. Dengan segala kehormatannya, Nyai memimpin perusahaan suaminya tanpa cacat.

Segala asmara, tentu dimulai dari pertemuan pertama. Sungguh dusta apabila terdengar pertemuan pertama itu tidak penting. Sama seperti Minke, saat pertama bertemu dengan Annelies. Annelies digambarkan seorang yang sangat cantik rupanya dan berhasil memikat hati Minke pada kesempatan pertama. Perasaan Minke semakin menjadi saat ia diminta Nyai untuk tinggal serumah dengannya, dengan alasan ia tak pernah melihat anaknya melepaskan senyum sebaik saat ia bertemu Minke.

Kisah senang dan susah digambarkan dengan baik, terlebih saat Annelies menderita sakit yang dikarenakan Minke harus pergi beberapa saat dan berpisah darinya. Ditambah momen saat Minke dicari oleh Robert Mellema untuk dibunuh. Namun selalu ada kata-kata cinta Minke kepada Annelies sungguhlah berasal dari seorang pujangga sejati, seuntai kata-kata yang tak lazim kita dengar hari ini.

Setelah sekian lama bersama, akhirnya Minke menikahi Annelies. Minke seorang Jawa, dan Annelies seorang campuran Eropa dan Pribumi : Indo. Hari-hari setelah pernikahan memang terasa menyenangkan, hingga waktu Annelies harus dibawa paksa ke Belanda. Untuk alasan yang tidak jelas, beralaskan hukum semu, pribumi masih didiskreditkan oleh bangsa Eropa. Segala upaya hukum telah diupayakan oleh Minke dan Nyai, namun apa boleh buat, mereka tetap tak bisa menahan kepergian Annelies berdasarkan surat yang dilayangkan oleh istri resmi Tuan Mellema. Nyai, yang diperistri tidak secara sah, tidak memiliki kekuatan apa-apa dimata hukum, tentu tidak memiliki hak yang dapat diperjuangkan terhadap buah hatinya sendiri, Annelies. Minke pula, suami yang sah melalui proses pernikahan agama Islam, juga tak berdaya dimata hakim, dan dianggap pernikahannya dengan Annelies tidaklah sah menurut hukum.

“Kita kalah, Ma,” bisikku.

“Kita telah melawan, nak, Nyo, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.”

Pram menggunakan setting waktu pemerintahan kolonial, saat dimana Eropa masih merajarela di tanah Jawa dan pribumi, sebagai penduduk asli, dianggap derajatnya lebih rendah dari Eropa. Sebuah karya sastra, karya seorang maestro, sempat dilarang beredar namun terbit dalam banyak bahasa lain. Bumi Manusia adalah buku pertama dari Tetralogi Buru : ditulis saat Pram ditahan di Pulau Buru karena dugaan keterlibatan dengan G30S PKI tanpa proses hukum. Bermula diceritakan secara lisan, kemudian ditulis. Sempat dibakar di berbagai tempat, hari ini Bumi Manusia telah mendapat banyak penghargaan sastra. Dianggap membawa Marxisme, ternyata pelarangannya hanyalah politik belaka, kepentingan.

Bumi Manusia
Pramoedya Ananta Toer
Jakarta : Lentera Dipantara, Cetakan ke-16 Oktober 2010.

ISBN : 979-97312-3-2

oleh : Christopher Chandra.

catatan : buku dipinjam dari Ignatio Glory A. W. K.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s