opinibuku : 1984

Membaca review buku, ternyata tidak seasyik yang dibayangkan. Post review buku saya juga terkesan tak mudah dibaca, sehingga diputuskan menggantinya hanya sebatas opini saya terhadap buku tersebut dengan bahasa sehari-hari.

1984

OKE. Jadi gue memutuskan buat menulis lagi di blog ini, dan kali ini mungkin pengen bahas buku fenomenal : 1984 karya George Orwell. Awalnya sering banget denger sih ini judul, apalagi kalo masukin keyword “must read books” di google, pasti buku ini masuk ke salah satu list-nya. Apalagi pas liat postingan di 9gag tentang buku-buku yang paling berpengaruh dalam hidupmu, dan top comment-nya 1984.  Setelah beli ini buku, lama sih gue anggurin dulu di rak buku, karena masih ada bahan bacaan yang laen dan emang kalo lagi tengah-tengah semester rasanya kuliahan sibuk banget yha.

Sampe akhir semester, baru akhirnya liat-liat rak buku, dan milih buku ini buat dibaca. Gue baca versi yang terjemahan bahasa Indonesia, dengan Landung Simatupang sebagai penerjemah. Sebelum baca buku ini, gue baru kelar baca Norwegian Wood sama Kafka on the Shore bikinan Haruki Murakami yang berbahasa Inggris. Rasanya memang beda, kalau baca buku terjemahan mungkin rasanya tidak sebaik kalau baca bahasa Inggrisnya, walau sebenernya yang Murakami juga terjemahan sih kan dia dari bahasa Jepang – tapi entah enjoy banget bahasa Inggrisnya, ringan dan ga susah-susah amat buat dibaca. Bukan sebagai kritik terkait terjemahan, tapi memang orang-orang punya gayanya masing-masing. Penerjemah menggunakan kata-kata “Polisi Pikiran” menggantikan thought police; “pikir-ganda” menggantikan doublethink; “henti-jahat” menggantikan crimestop. Mungkin kedepannya gue bakal nabung atau cari pinjeman 1984 yang bahasa Inggris.

War is peace. Perang ialah damai.

Freedom is slavery. Kebebasan ialah perbudakan.

Ignorance is strength. Kebodohan ialah kekuatan.

1984 sebenernya serem sih, mungkin ini harusnya ada di tag klasik-horor, karena gue ngerasa dihantuin gitu pas baca buku ini, apalagi dengan kata-kata “Bung Besar” (Big Brother) yang kayanya begitu dominan – walau sampai akhir ga dijelasin apakah “Big Brother” ini apakah eksis atau sosok fiksi. Buat gue yang lahirnya 1997 pasti ga “ngeh” apa yang terjadi saat pemerintahan Soeharto saat itu, tapi sedikit banyak yang gue baca, buku ini menggambarkan bagaimana keadaan masyarakat seperti zaman orba itu. Mungkin ini ekstrem, tapi memang Orwell menuliskan bahwa orang-orang yang anti partai, tau-tau menghilang dan namanya seakan dihapus dari sejarah. Tentang bagaimana manipulasi arsip berita, statistik, manipulasi sejarah semuanya agar selalu mendukung apa yang dikatakan oleh “Bung Besar”. Tidak ada dokumentasi yang dapat menyatakan bahwa “Bung Besar” ini bohong apalagi salah, dan sekalipun mungkin ada seseorang yang mengingat tentang kejadian masa lampau yang bertentangan dengan apa yang diberitakan sekarang, akan dicuci otak.

Nyeritain Winston Smith, yang awalnya seorang anggota partai yang baik, anteng-anteng aja, dan ga neko-neko. Sampai suatu titik ia seolah ga nyaman dengan sistem yang ada, dan menemukan orang yang dianggap memiliki tujuan yang sama : menggulingkan “Bung Besar”. Bertemulah ia, dengan sesosok perempuan yang menjadi pemanis novel ini, Julia, yang pada akhirnya mereka saling jatuh cinta (cinta adalah hal yang dilarang partai). Setelah bersama Julia, keinginannya untuk melawan partai semakin besar, hingga ia pada pertemuannya dengan O’Brien, yang awalnya menunjukkan diri sebagai anggota Persaudaraan (terj. Brotherhood), yang digambarkan sebagai kelompok oposisi partai. Namun, pada akhirnya Winston dan Julia tertangkap, dan mengetahui bahwa O’Brien bukanlah seorang anggota Persaudaraan, namun seorang “Polisi Pikiran” yang akhirnya menangkap, menyiksa, dan menyuci otaknya.

Penggambaran Orwell terkait sistem pemerintahan, kementrian-kementrian yang ada, apalagi menciptakan bahasa Newspeak yang cukup aneh, sangat baik dalam cerita ini. Orwell menyuguhkan objek teleskrin (terj. telescreen) dan menggambarkan fungsi alat itu sedemikian rupa, entah ada mic tersembunyi, atau jalan-jalan gang sempit yang  seolah tak ada telescreen. Juga menggambarkan tentang adanya ‘kasta’ terdiri dari anggota partai inti, anggota partai luar, dan proletar. Orwell telah membuat sebuah karya yang tak biasanya, sad ending, karena akhirnya perjuangan penggulingan gagal, serta Winston dan Julia dicuci otak untuk patuh dan cinta terhadap partai sekaligus “Bung Besar”.

Novel ini bukanlah novel ceria seperti Animal Farm sama sekali, tapi novel ini lebih mencekam, sadis, dan menggambarkan bagaimana kekuasaan seseorang dapat menjadi sangat dominan dalam suatu wilayah. Cocok buat yang mau belajar tentang politik, atau bagi yang mau baca-baca cerita klasik, 1984 merupakan awal yang sangat baik setelah Animal Farm.

1984 oleh George Orwell.
Pertama kali dicetak 1949.
Penerjemah : Landung Simatupang
Penerbit : Bentang Pustaka, Cetakan ketiga, Edisi III, Januari 2017.
ISBN : 978-602-291-234-7

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s