adzan

Karena dialog tak kunjung usai,
malam itu ‘ku putuskan untuk bermalam di ‘rumah kedua’-ku.
Melangkahi malam, aku pun terlelap dengan bayangmu di benakku.
Diiringi segala macam topik, tawa yang dipaksakan, hingga petikan gitar sumbang.

Aku terbangun pada saat adzan subuh memanggil.
Walau aku tak sujud dalam khusyuk,
aku selalu terkagum pada gulungan suara adzan,
yang mencipta harmoni melawan senyap.

Menyeruak menggugah sepi, membiarkanku tak kesepian di antara gelap.
Meretas hampa, mengingatkanku tak pernah sungguh-sungguh sendiri.
Merusak kecutnya dingin, melayangkanku seperti didekap pengap olehmu.
Memecah tenang, menyanyikan kata yang menelisik hati, layak lakumu.

Sungguh aku menunggu.
Menanti.
Sekat.
Mati.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s