kaset

siluet pepohonan kala surya terbenam
yang kau nanti setiap senja
mengingat segala ‘kan semakin gelap
menyelimuti hingga pekat

berkas cahaya yang menelisik masuk
diantara rimbun daun
saat dirimu rebah terlindung ‘payung’
dibawah panas, sekali waktu

deru mesin antara merah dan hijau
sesaat ia berjalan, akan berteriak
ditambah klakson, dan seruan
menambah ramai kala ‘melangkah’

kapan aku bisa menjadi senja ?
yang setiap ia bertemu muka
selalu baru, selalu indah
selalu mengagumkan

pun aku ingin menjadi matahari
yang silaunya menjadi cantik
saat ia tertutup daun mozaik
membawa tenang dibawah terik

tapi inilah aku,
gradien suara yang timbul
dari merah menjadi hijau
diam lalu melangkah

gradien yang kemudian mengecil
perlahan, lalu monoton
termakan aksi peloton
berakhir tak kontinu

seperti pemutar kaset, dan kasetnya
akan ada waktu kasetnya perlu dibalik
akan ada waktu penggantian baterai
akan ada waktu segalanya usang, usai.

Advertisements

ivanium

Mungkin ini saat yang tepat

Setahun lebih saya mengenal anda, Ivan Kurniawan.

Jauh sebelum saya masuk AMISCA, saya benci kaderisasi. Sesungguhnya, saya pun tak suka MPAB. Namun, setelah saya menjadi kader anda – kalau saya layak – saya tak lagi benci, namun cukup gila dengan kaderisasi.

Terima kasih, ketua MPAB HMK ‘AMISCA’ ITB 2016 atas sosok yang sudah anda tanamkan. Sosok yang lumayan adimanusia, yang masih cukup manusiawi ya sombongnya itu. Pun saya cukup sering berbicara dengan anda, tetap saya belum merasa cukup mendapat dari anda. Lupakan tentang akademik, karena saya sendiri tak sebegitu rajinnya untuk menerima dari anda. Tentang kemahasiswaan, tentang manusia. Anda salah satu orang yang akhirnya membuat saya sadar, bahwa segala sesuatunya perlu menjadi logis dan beralasan.

Sebentar sosok itu mungkin akan vakum, namun saya harus meminta maaf bila saya tak bisa menjadi substituen sosok itu. Ya jelas saya masih lebih banyak sisi manusianya dibanding adimanusianya. Juga saya belum tentu menjadi penerus anda dalam MPAB, karena ternyata saya harus memegang sepeda kampus. Bukan saya tak berani menyatakan diri telah layak menjadi seorang pengader, namun saya sadar di mana saya sesungguhnya dibutuhkan. Meskipun saya mengecewakan anda dalam MPAB kemarin, ternyata saya masih belum bisa menjanjikan apa-apa pada MPAB mendatang.

Terima kasih, pengaderku. Seorang mantan mahasiswa, namun masih seorang akademisi. Saya mungkin merindukan orang yang kelakuannya seaneh anda, yang berkemahasiswaan sebisa diganggu anda, dan seorang akademisi yang seperti anda. Berdoalah apa yang sempat anda tanam dahulu, akan berbuah manis ditengah lingkungan yang seperti hari ini.

Juga saya berdoa anda selamat, dan anda kembali.

N.B. Saya menemukan orang bernama Ivana Kurniawati. Cantik, Chinese, Kristen, penggerak literasi. Siapa tau cocok. IG : @ivana_kurniawati

Tabik,

Lu’15

opinibuku : The Magic Library – Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken

Buku, perpustakaan.

Jadi awalnya sering liat seri bukunya Jostein Gaarder di Gramed, ya kalian tau lah jenis sampulnya mirip semua, jadi tau aja itu pasti salah satu bukunya Jostein Gaarder. Penulis ini juga biasanya dikenal karena karyanya : Dunia Sophie, yang katanya novel filsafat banget. Belom baca sih, serem tebel. Pengalaman baca 1Q84-nya Haruki Murakami juga gaberes-beres. Jadi ya, nanti saja.

153927.jpg

Kebetulan seorang teman ehem merekomendasikan buku ini, dan karena penasaran sama penulisnya, akhirnya masuk wishlist, dan akhirnya beli di Palasari. Pas beli, suka banget sama design sampulnya dan ya biasa di Palasari langsung di sampulin gratis, jadi ga sempet pegang sampulnya.

Langsung ke bukunya. Ini buku kebagi jadi dua bagian, satu ngomongin buku-surat, dan satu lagi ngomongin perpustakaan. Ya, judulnya kan perpustakaan, ya harus bahas perpustakannya, tapi sub judulnya Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken. Jadi ngomongin perpustakaan ajaib punya Bibbi Bokken. Gue juga aneh pas denger namanya, kok aneh ya Bibbi Bokken, tapi di sekip deh – dan emang kalo gue gasalah, emang ga dibahas tentang nama Bibbi Bokken-nya sendiri.

Bagian awal buku, isinya surat-suratan antara Berit (cewe) dan Nils (cowo) yang merupakan sepupu, tapi tinggalnya berjauhan gitu satu di Fjaerland sama di Oslo. Terus mereka lucu gitu, surat-suratan tapi di satu buku yang sama. Jadi ceritanya mereka beli satu buku, terus di tiap halamannya mereka surat-suratan gitu. Mereka kaya detektif gitu, ceritanya mata-matain Bibbi Bokken yang merupakan seorang perempuan yang hobi banget buku – belakangan diceritain dia bibliofil.

Berdua ini main detektif, sampe nanya-nanya, dan menceburkan diri mereka dalam bahaya. wuih. Katanya ada perpustakaan yang isinya adalah buku-buku yang belum terbit, buku-buku yang baru bakal terbit di tahun depan. Wuaw. Nah mereka bingung deh, sampe cocokologi sama perpustakaan Bibbi Bokken. Sampe nyelinap-nyelinap masuk rumah orang, dan pergi ke Italia.

Ada seorang antagonis, Smiley, yang berusaha mati-matian buat ngambil buku-surat itu dari mereka. Mereka ga tau alesannya, tapi yang jelas mereka sampai harus nyelinap ke kamar si Smiley buat merebut kembali buku-surat itu. Banyak tokoh yang terlibat di sini, mereka-mereka ini yang akhirnya mengarahkan apa yang mereka tulis di buku-surat tadi.

Pada bagian kedua, perpustakaan, barulah diceritain mereka bertemu langsung sama Bibbi Bokken di rumahnya, dan menemukan perpustakaannya yang ternyata di bawah tanah. Diceritain bukunya banyak banget, dan tersusun di rak raksasa yang ada di rumah tersebut. Dan, yang baca bakal ketemu sama plot twist, yang sebenernya udah agak kebaca dari akhir bagian satu. Tapi tetep aja, keberadaan tokoh-tokoh yang ternyata berperan besar, kebanyakan diabaikan sama pembaca, dan baru di recall lagi di akhir buku.

Overall, buku ini menyajikan cerita ringan sambil mengajak pembaca cukup mikir. Terjemahannya oke, walau tetep aja banyak bahasa-bahasa asing yang ga paham. Penggambaran latar tempat, waktu, sampai ke perasaan juga berhasil ditulis dan diterjemahkan dengan baik – karena kalau ga diterjemahin dengan baik ya ganyampe juga. Bukunya cenderung tipis, ditambah gaya bahasa yang ringan membuat buku ini lumayan cepat dilahap dan dinikmati. Tentang bagaimana biasa bahasa anak-anak, ke remaja, lalu pembicaraan orang dewasa juga terasa bedanya.

Mungkin yang agak membingungkan, di bagian dua menjelang akhir, sering terjadi perpindahan sudut pandang – antara Nils dan Berit yang pada bagian pertama ditandai dengan pergantian surat, namun pada bagian kedua pembaca harus teliti untuk dapat memahami setiap paragraf yang disajikan penulis. Menurut saya pribadi, tidak ada kesan filsafat yang tertuang di buku ini, namun saya mendapatkan momen mikirnya, dan momen terjawab yang terpikirkan.

The Magic Library – Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken oleh Jostein Gaarder & Klaus Hagerup
Pertama kali dicetak 1999.
Penerjemah : Ridwana Saleh
Penerbit :  Mizan,  Cetakan VII, Edisi Ketiga, Oktober 2017