gorengan

Baru saja, aku menginjakkan kaki di rumahku. Pulang. Pukul satu lewat tiga menit.

Forum Musyawarah Kerja, jam tujuh malam. Ternyata aku terlambat datang, aku sampai di tempat jam setengah delapan malam dan seperti yang sudah kuduga sebelumnya, forumnya belum dimulai. Pas ketika aku datang, baru akan dimulai. Tenang, aku bukan membahas tentang forum AMISCA. Bacalah sedikit lagi.

Forum berlangsung hingga jam sebelas malam kurang, dan aku membiarkan diriku masih berada di sekretariat himpunan hingga datang satpam patroli yang menghimbau untuk pulang. Setengah dua belas malam. Aku berjalan ke parkiran, menaiki mobil. Kosong. Pikiranku masih berat menyangkut forum, pun yang benar dan salah menjadi bias.

Melaju keluar parkiran, tak langsung pulang, tak lama kudapati aku mengemudi tanpa tujuan di Dago. Menyimpulkan, aku butuh waktu sendiri. Aku meluncur langsung ke tempat favoritku untuk menyendiri. Tidak, bukan di gunung, atau di hutan. Tempatnya ada di belakang sebuah mall, berada di pertigaan jalan yang saat siang sangat ramai hingga pejalan kaki pun bisa merasakan macet. Sebuah lapak, lokasi yang aku kenal betul kondisi dan makanannya. Tiada nama, plang, apalagi neonbox. Ini adalah tempat yang dulu dikenalkan oleh temanku, karena satu hal : gorengannya enak dan selalu panas. Beberapa kali aku ke sana, belum pernah aku mendapati gorengannya dingin dan memang benar, rasanya enak. Segala sesuatu selalu lebih enak dimakan saat panas.

Terkejut, sekarang tempat itu sudah lebih ramai dibanding dahulu dan ada sebuah roda nasi goreng berjarak tiga meter dari lapak tersebut. Warung mungkin lebih tepat. Mejanya tersusun membentuk huruf L dengan kompor pada sikunya. Kompor yang belum pernah kulihat berhenti menyala : menggoreng apa saja, atau merebus mie, atau sekadar memanaskan air dalam teko. Ibu paruh baya yang melayaninya pun berbeda dari yang biasa ku kenal, saat kutanyakan, beliau sedang libur rupanya. Entah berapa lama aku tak jajan ke sini, dan memang aku rindu gorengan panas dan nasi kuningnya. Tempatnya kumuh, becek, banyak sampah pasar berceceran. Tak jarang jua aku mendengar dan melihat tikus-tikus sibuk berkeliaran. Sisi memanjang pada huruf L itu merapat tembok, tempat menyiapkan segala rupa sajian. Sisi pendeknya, terdapat tiga baki beralaskan koran – tempat gorengan-gorengan menawan meniriskan diri.

Baki pertama berisi tempe yang dibungkus tepung kemudian digoreng atau biasa disebut mendoan, baki kedua berisi gehu atau tahu isi, baki ketiga berisi bala-bala atau yang terkenal di luar Bandung dengan nama bakwan. Inilah sajian utama, dan pemikat semua yang datang ke sini. Ditemani cengek (cabe rawit) dan bumbu kacang, gorengan panas ini selalu memiliki daya pikat yang kuat – juga karena harganya yang murah, hanya seribu rupiah. Di depan baki-baki tersebut, terdapat kursi kayu panjang, tempat aku biasa duduk dan mengunyah satu persatu gorengan yang ada. Di belakangku, ada beberapa bapak-bapak yang menggelar lapak gapleh, ditambah kelakar-kelakar yang sayup ku dengar.

Sajian lain yang aku suka dari tempat ini adalah nasi kuningnya. Setiap sajinya disertai telur, dan soun seperti pada umumnya, dihiasi kerupuk dan sambal oncom. Setiap suap nasi kuning, yang kupadu dengan segigit gorengan, berhasil membuatku bersyukur dan melepas beban dari forum tadi. Aku diam cukup lama, menatap kosong pada setiap objek yang dapat kulihat, sambil menyeruput kopi hitam yang kupesan, dan aku bersyukur dalam syahdu.

Kawan, mendapat tenang tak perlu jauh dari kota, tak perlu mahal membeli senyap di cafe. Aku merogoh kantong sebesar 17 ribu untuk seporsi nasi kuning, secangkir kopi hitam, dan delapan gorengan. Bila ada yang menginterpretasi “-mu” di lagu “Aku Tenang” milik Fourtwnty adalah ganja, untukku itu adalah gorengan panas.

Pukul dua tepat, aku selesai menulis dengan gorengan dalam angan.

Advertisements

tua di bengkel

prolognya, gue mau cerita gue servis mobil mayan tua. ini keknya banyak banget gitu masalahnya.

jadi kalo kalian mau servis mobil ato motor, pasti milih bengkel dong. nah pilihannya ya cuma 2, antara bengkel resmi sama bengkel pinggir jalan (bukan berarti bengkel resmi adanya di tengah jalan ya). tapi buat pertama kali, gue sama papah pilih bengkel resmi. alesannya, jadi pernah tuh mobil orang rumah juga servis ke bengkel biasa, malah gabener-bener, dan sekali masuk bengkel resmi jadi beres.

waktu itu hari jumat, dan libur. berkelilinglah gue menyambangi AUTO2000 di bandung. pertama ke soetta, terus ke dago. tapi kirakira sama, karena ini tanggal merah, jadi cuma dikit mekaniknya dan kemungkinan ga beres hari ini. janjian lah akhirnya ke AUTO2000 yang di soetta buat dateng jam 7 pagi.

dateng deh gue ceritanya jam 7 pagi, terus registrasi ini itu sama pengecekan singkat, keluarlah tu estimasi biaya kerja. jengjeng 5 juta. gue telepon papah dah, dimarahin katanya apa aja. gue jelasin ini itunya, dan akhirnya papah minta ngapus ini itu sampe item-item yang konon gabisa dikerjain sama bengkel biasa. gue dari jam setengah 8 udah naik ke ruangan tunggu yang ber-ac, ada snak gratis, ada tempat duduk dan meja yang proper dan ada kaca gitu buat kita liat mobil kita udah naik apa belom.

seinget gue, baru naik jam set 9an. wajar, karena gue ga booking gitu alias gue nyerobot antrian sebenernya. ditungguin lamaaaa banget, tapi ya karena ruang tunggunya enak, ada colokan ada makanan ada kopi ada susu ya betahlah ya. mulai gabetah itu saat liat mobil laen kok cepet banget, yang gue kok lama banget. turun deh, nanyain ke semacam service advisor gitu. ternyata emang banyak masalah yang baru ketauan. hehe. pun itu ga semuanya diganti karena biaya sparepartnya mahaaal sekale dan jasanya mahaal juga, jadi niatnya papah mau nanti aja satu-satu nunggu ada duit juga.

setelah dari AUTO2000, kirakira 2 minggu kemudian, papah nyuruh bawa ke bengkel yang biasa, dan ganti fan belt karena yang lama udah retak artinya sudah tidak elastis dan takutnya putus tiba-tiba. dipilihlah satu bengkel. lumrah bengkel, ada yang punya, ada montir. intinya gue beli tuh fan belt, terus minta pasangin di sana. bayar dkk ya ga semahal kalo di bengkel resmi. ya partnya juga kw. hehe.

nah hari ini, papah nyuruh lagi ke bengkel buat beresin cross joint. nah di sini baru gue sadar, ada hal yang teratur di sini. jadi alur di bengkel ini, kalo lu dateng, nanti mobil lu dicobain dulu sama yang punya, terus yang punya bilang ini itu ke montirnya, baru dikerjain sama montirnya. setelah kelar dikerjain, dicoba lagi sama yang punya, dinyatakan oke (kek QC aja ya) baru bisa keluar dan bayar dkk.

yang memicu gue bikin tulisan ini adalah, jadi tadi gue jam set 11 masuk, jam 11an itu montirnya masih beli sparepart dan ya gue nunggu di ruang seadanya, nebeng tukang tambal ban. panas banget, akhirnya jajan ini itu. oke skip, jam 11 itu ada mobil baru yang dateng. mirisnya, ya ga digubris sama montir yang ada, dan bilang tunggu si om ya. setau gue yang punya emang lagi nyoba mobil gitu, tapi ya gatau kenapa lama banget : belakangan sekeluarga bilang hari ini macet sebandung bandung.

sampe mobil gue kelar dikerjain, selang sekian lama, gue melihat montirnya ga ngapa-ngapain paling rokok, ngopi, ngobrol, padahal ya ada yang harus dikerjain gitu. gue gatau itu emang prosedural alurnya apa gimana, tapi ya kasian aja yang punya mobil yang baru dateng itu nunggu lamaaaa banget tanpa kepastian. digantung. sama gue juga, pas yang gue kelar, dan nunggu mau bayar, nunggu omnya lamaa juga ga dateng-dateng padahal hasil udah di depan mata siap bayar. dan lalu datanglah si om, dan bayar dan kerjaan terus lanjut.

nah ini intinya. hehe. gue liat di AUTO2000 itu ya montirnya kerja terus, ada supervisornya gitu, dan semuanya kerja ga ilang-ilangan. pun kalo lu harus nunggu mobil laen dikerjain, seengganya lu tau lu nungguin yang mana dan emang lagi dikerjain. bukan nungguin orang yang punya yang gatau lagi kemana. pun waktu nunggu, gue berjam-jam di AUTO2000 betah-betah aja, ya liat sana sini, bahkan ada nasi goreng gratis. sedangkan di bengkel yang tadi, uh panasnya, sampe jajan ini itu karena bosen banget nungguin dan ganyaman. bahkan gue bawa buku bacaan juga ga pewe banget bacanya.

ya, but it all cost more money. ada harga untuk sebuah kenyamanan. ada harga untuk sebuah rasa aman. ada harga untuk kepercayaan.

ga maksud mengecilkan pihak mana mana, ini pengalaman. ya semua ada plus minusnya. 🙂

nb. sebelomnya gue pernah juga di service centernya Honda, dan dapet hal yang kira-kira sama kaya di AUTO2000. intinya bengkel resmi.

kuorum

kuorum/ku·o·rum/ n jumlah minimum anggota yang harus hadir dalam rapat, majelis, dan sebagainya (biasanya lebih dari separuh jumlah anggota) agar dapat mengesahkan suatu putusan

anda yang bosan membahas ini, ya dilewat saja. daripada dibaca dan anda gondok.

perkenalkan, saya ‘gembel’ AMISCA, ya titel yang saya buat dan akui sendiri. Mahasiswa semester 6, yang mulai bosan, mulai sadar betapa …

prolog. jadi malam tadi saya menghadiri uji panelis calon senator dalam rangka pemilu raya (PEMIRA) AMISCA 2017 (-2018). sesuai kesepakatan saat audiensi, uji panelis tidak memerlukan kuorum untuk berjalan. eh tapi hearing biasa juga jalan-jalan aja tuh ga kuorum. eh.

Sebelumnya, saya minta maaf untuk semua yang baca ini, ya benar saya salah karena tidak memerhatikan ini pada saat audiensi yang empat kali dan sampai tembus jam sebelas malam. Saya minta maaf. Sejujurnya saya baru menyadari pada tata aturan, hearing yang tidak kuorum tetap dilanjutkan, hanya berpengaruh pada pengurangan poin. Ya, saya juga sudah ditegur oleh Bang Step P’12. Toh pengurangan poin terkait kuorum juga tidak bisa membuat poin calon menjadi nol (diskualifikasi), walau pelanggarannya maksimal : tidak pernah ada angkatan yang kuorum.

Oke kita runut sedikit. pada saat saya pertama kali masuk ke AMISCA, saya mengajukan diri menjadi ketua PEMIRA 2016. Pada PEMIRA kami, tentu ada aturan mengenai kuorum dan sanksinya tentu berat : sangat memungkinkan untuk mendiskualifikasi calon karena masalah kuorum. Tentu saat itu kami panitia berusaha untuk memenuhi kuorum dengan segala macam cara – termasuk dari calon-calon terkait karena sama-sama tidak mau mengulang PEMIRA.

Menariknya PEMIRA kali ini, setelah saya melakukan dosa besar saat audiensi, ternyata kuorum tak lagi terlalu dianggap, atau kalau kata Efek Rumah Kaca sih Sebelah Mata. Kuorum sebatas angka, sebatas jumlah kepala yang ada di ruangan tanpa tau isi kepalanya ada di mana. Ditambah pada hearing-hearing sebelumnya, saat perhitungan kuorum, saya melihat, dan ada panitia PEMIRA 2017 yang mengeluh bahwa calon-calon hanya duduk tenang bahkan bergurau bersama tim promotor masing-masing, padahal kuorum belum tercapai serta tanpa berusaha lebih untuk mengajak massanya. Massa yang kelak mereka pimpin. ‘ga kuorum poin gue masih aman kok’

Setelah pengakuan dosa saya di atas, yang lebih menarik lagi adalah massa AMISCA sendiri. Kawan, maafkan saya bila anda tersinggung, toh saya juga melakukan ini tanpa sadar. Suasana hearing selalu ribut. Sayangnya saat tak ribut, berarti massa sedang sibuk pada gawainya masing-masing. Semakin lama, semakin nyata bahwa kuorum saat ini tak lagi mementingkan kualitas peserta forum, ketersampaian materi ke massa, namun hanya sebatas ukuran angka lalu setelah termin satu langsung pulang. Saya tak bermaksud menyinggungmu kawan. Tak apalah bila sepanjang hadirmu, terbuka telingamu lebar-lebar, namun sepenglihatanku, tidak. Maaf.

AD/ART AMISCA amandemen terakhir (yang saya peroleh di Amisca Dasar 2016), tertulis musyawarah anggota minimal dihadiri oleh setengah-n plus satu massa. Menurut saya, para leluhur kita membuat ini sebagai sebuah sistem yang dapat menjaga nilai. Konsep utamanya selalu begitu. Ada nilai-nilai yang dipelihara, namun seiring bertambahkan kuantitas, diperlukan suatu sistem untuk mengatur populasi agar nilai tetap terjaga. Namun yang saya sadari di banyak kondisi, nyatanya sistem telah memakan nilai, lalu sistem mulai menjadi hambar, dan ditinggalkan populasi.

Tergelitik, tadi sore ada yang menyambungkan masalah tak pernah kuorumnya hearing dengan partisipasi massa kelak di AMISCA. Saya tak tahu dan kurang ngobrol sama om tante senior saya, apakah ada hubungan langsung dari kuorum hearing ke partisipasi massa nantinya. Jujur, saya ada pikiran itu berpengaruh, dan ada juga sisi yang mengatakan tak ada hubungannya. Sampai hari ini hearing tak pernah kuorum. Entah kelak saat program kerja berjalan satu-satu, apakah akan ada massa yang mau datang ? Sisi  lainnya, mungkin memang massa terpartisi, salah satu kubu ingin ke mana, dan kubu yang lain ke mana.

Saya juga pernah mendapat pandangan dari Pak Nizar – beliau seorang dosen dan mantan ketua himpunan. Sarannya, “mengapa mematok angka kuorum sebegitu besar ? Jangan bikin susah-susah, toh orang yang hadir juga tidak semuanya mendengarkan. Lebih baik sedikit tapi mendengarkan semua.” Hal ini saya dapat pada saat meminta tanda tangan beliau untuk proposal PEMIRA tahun lalu. Saat itu saya menjelaskan alasan, sedikit membantah, karena saya masih berpikir himpunan se-ideal itu. Hari ini saya bilang, Pak Nizar benar.

Mungkin alasan massa adalah satu : cape. Lelah dengan semua drama di PEMIRA atau bahkan di himpunan, lelah dengan semua kepalsuan yang dibawakan calon, atau memang sudah tak lagi peduli terkait himpunan. Kawan, kadang saya sedih melihat himpunan kosong sedari pagi, selesai kelas hingga malam. Saya iri dengan mereka anak-anak timur jauh lainnya, yang terkadang saat saya masih di himpunan jam sebelas malam, lalu mereka turun berbondong-bondong berjahim, dari atas seperti masih akan melanjutkan forum. Pun saya iri dengan unit-unit yang memiliki ikatan kekeluargaan yang kuat, kondisi yang dapat membuat nyaman berada di sana.

Pertanyaannya, untuk apa hearing kalau tak didengar ? Hearing itu untuk massa, atau panitia saja, atau mungkin untuk promotor saja ? Kuorum adalah masalah kita bersama, masalah saya juga. Tetapi, saya melihat saat kuorum ditiadakan seperti uji panelis casenator malam tadi. Kosong, sepi. Ruang kelas yang begitu besarnya, diisi segelintir orang : panitia PEMIRA, cakahim dan beberapa promotor, BP, dan satu dua orang massa. Kawan, saya tak lagi tahu harus apa, harus menjadi apa, harus bagaimana.

Setidaknya, ada kawan kita yang sedang bicara di depan, yuk kita dengarkan. Tinggalkan segala game dan laprakmu. Iya benar, saya munafik, saya juga berusaha kok. Namun saya rindu setiap forum ada banyak yang bertanya, setidaknya saya tahu banyak yang mendengarkan isi forum, ada banyak orang yang saling bersebrangan pendapat lalu dibicarakan bersama. Saya rindu. Saya kangen.

Tabik,

Christopher Chandra – ‘gembel’ AMISCA