opinibuku : 24 Jam Bersama Gaspar

gaspar

Pertama kali gue liat buku ini di account instagram salah satu penjual buku-buku indie pas mereka buka PO buat produksi buku ini. Awalnya ga tertarik, karena covernya bener-bener aneh, dan judulnya juga sama sekali ga pernah denger. Tapi yang bikin gue tertarik adalah logo mojok di kanan atas, yang berarti ini salah satu penulis mojok. Tapi gue ga beli saat itu. Setelah baca review sana-sini, akhirnya memutuskan juga kayanya bagus sih ini buku, dan juga emang butuh selingan yang agak ringan hehe. Akhirnya beli deh buku ini di gramed karena pas liat ada di gramed, kirain dijual terbatas hehe.

Pas baca halaman-halaman awal, gue udah ngerasa ini fix novel lucu dan ringan. Gaspar, tokoh utama dalem novel ini digambarkan cukup detail, tapi nyeleneh. Masa ada orang mutusin pacarnya dan nyuruh pacarnya ini pacaran sama temennya. Kampret banget kan. Akhirnya lanjutin baca, dan memang gue menemukan hal yang lebih lucu di buku ini : ada transkrip dialog dua orang seakan lagi interogasi, tapi jawaban dari orang yang diinterogasi ini ngawur banget. Bisa-bisanya yang diinterogasi seakan memarahi yang menginterogasi, dan bikin bete si polisi ini. Dikenalin juga  Cannizzaro Cortazar – yang awalnya gue bingung ini siapa – terus belakangan baru sadar bahwa ini nama yang dikasih Gaspar buat motornya. Cortazar ini ceritanya punya kemauan sendiri, seolah hidup, dan belom tentu rukun sama yang punya/naik. Menghibur sekalee.

Sebenernya, yang dibawa Sabda Armandio ini hal yang cukup serius. Hal ini dijelasin pas halaman-halaman terakhir novel ini. Tentang adanya pelecehan seksual, pedofilia, dan hal-hal kriminal lainnya. Namun penulis membawa topik ini secara perlahan, lembut diawal, sedikit dibuat pusing ditengah – membuat tim perampok yang merupakan keluarga sendiri, bahkan ibunya sendiri – hingga akhirnya dibawa ke topik yang serius dan cukup membuat gue harus memperlambat kecepatan membaca. Pembawaan, alur, selipan, dibuat penulis serasi dengan gaya penulis sendiri yang membuat pembaca juga menjadi enjoy saat membaca dan gabutuh adaptasi khusus terkait gaya penulisan. Hal ini menjadi poin plus, karena gue saat pertama kali membaca buku Pramoedya Ananta Toer (Pram) “Bumi Manusia” gue butuh waktu agak lama buat ngerti cara nulis Pram dan baru bisa enjoy dengan cara menulisnya.

Hal pertama yang gue kritik terhadap buku ini, adalah font nya. Mungkin receh ya kritik gue hehe, tapi font yang dipake ini agak kebesaran dan bikin pembaca cepet banget pindah baris. Ini subjektif sih, tapi memang gue ngerasa novel ini bahasanya ringan, kiasan-kiasan yang dipake juga gaperlu mikir lama, jadi buat bacanya cenderung cepet. Ditambah font nya yang besar, bikin rasanya cepet banget pindah barisnya. Fontnya lama kelamaan enak dibaca, mungkin gue diawal adaptasi aja sih ya. Hal kedua yang gue kritik, ga ada. Hal yang jadi sorotan gue ituu adanya ilustrasi setiap akhir bab. Misal ngegambarin Cortazar, Koka (senjata), ngegambarin Budi Alazon, ini bikin imajinasi liar pembaca dikerangkeng tapi memuaskan gitu.

Novel ini merupakan Pemenang Unggulan sayembara novel dewan kesenian Jakarta 2016, jadi ini bukan novel abal-abal tanpa prestasi. Mojok juga bukan situs abal-abal, susah bikin tulisan yang bisa tembus ke website mojok. Buku ini berhasil mencuat keluar dari antara tulisan-tulisan lain dan dibukukan. Ga ada alasan lain yang bisa mendiskreditkan buku ini sih menurut gue. Cocok banget buat yang suka detektif-detektif lucu, ada cinta-cinta, ada keluarga, ada pertemanan, lumayan lengkap dimunculkan penulis.

24 Jam Bersama Gaspar oleh Sabda Armandio
Cetakan Pertama, April 2017
Penerbit : Mojok
ISBN : 978-602-1318-48-5

 

opinibuku : 1984

Membaca review buku, ternyata tidak seasyik yang dibayangkan. Post review buku saya juga terkesan tak mudah dibaca, sehingga diputuskan menggantinya hanya sebatas opini saya terhadap buku tersebut dengan bahasa sehari-hari.

1984

OKE. Jadi gue memutuskan buat menulis lagi di blog ini, dan kali ini mungkin pengen bahas buku fenomenal : 1984 karya George Orwell. Awalnya sering banget denger sih ini judul, apalagi kalo masukin keyword “must read books” di google, pasti buku ini masuk ke salah satu list-nya. Apalagi pas liat postingan di 9gag tentang buku-buku yang paling berpengaruh dalam hidupmu, dan top comment-nya 1984.  Setelah beli ini buku, lama sih gue anggurin dulu di rak buku, karena masih ada bahan bacaan yang laen dan emang kalo lagi tengah-tengah semester rasanya kuliahan sibuk banget yha.

Sampe akhir semester, baru akhirnya liat-liat rak buku, dan milih buku ini buat dibaca. Gue baca versi yang terjemahan bahasa Indonesia, dengan Landung Simatupang sebagai penerjemah. Sebelum baca buku ini, gue baru kelar baca Norwegian Wood sama Kafka on the Shore bikinan Haruki Murakami yang berbahasa Inggris. Rasanya memang beda, kalau baca buku terjemahan mungkin rasanya tidak sebaik kalau baca bahasa Inggrisnya, walau sebenernya yang Murakami juga terjemahan sih kan dia dari bahasa Jepang – tapi entah enjoy banget bahasa Inggrisnya, ringan dan ga susah-susah amat buat dibaca. Bukan sebagai kritik terkait terjemahan, tapi memang orang-orang punya gayanya masing-masing. Penerjemah menggunakan kata-kata “Polisi Pikiran” menggantikan thought police; “pikir-ganda” menggantikan doublethink; “henti-jahat” menggantikan crimestop. Mungkin kedepannya gue bakal nabung atau cari pinjeman 1984 yang bahasa Inggris.

War is peace. Perang ialah damai.

Freedom is slavery. Kebebasan ialah perbudakan.

Ignorance is strength. Kebodohan ialah kekuatan.

1984 sebenernya serem sih, mungkin ini harusnya ada di tag klasik-horor, karena gue ngerasa dihantuin gitu pas baca buku ini, apalagi dengan kata-kata “Bung Besar” (Big Brother) yang kayanya begitu dominan – walau sampai akhir ga dijelasin apakah “Big Brother” ini apakah eksis atau sosok fiksi. Buat gue yang lahirnya 1997 pasti ga “ngeh” apa yang terjadi saat pemerintahan Soeharto saat itu, tapi sedikit banyak yang gue baca, buku ini menggambarkan bagaimana keadaan masyarakat seperti zaman orba itu. Mungkin ini ekstrem, tapi memang Orwell menuliskan bahwa orang-orang yang anti partai, tau-tau menghilang dan namanya seakan dihapus dari sejarah. Tentang bagaimana manipulasi arsip berita, statistik, manipulasi sejarah semuanya agar selalu mendukung apa yang dikatakan oleh “Bung Besar”. Tidak ada dokumentasi yang dapat menyatakan bahwa “Bung Besar” ini bohong apalagi salah, dan sekalipun mungkin ada seseorang yang mengingat tentang kejadian masa lampau yang bertentangan dengan apa yang diberitakan sekarang, akan dicuci otak.

Nyeritain Winston Smith, yang awalnya seorang anggota partai yang baik, anteng-anteng aja, dan ga neko-neko. Sampai suatu titik ia seolah ga nyaman dengan sistem yang ada, dan menemukan orang yang dianggap memiliki tujuan yang sama : menggulingkan “Bung Besar”. Bertemulah ia, dengan sesosok perempuan yang menjadi pemanis novel ini, Julia, yang pada akhirnya mereka saling jatuh cinta (cinta adalah hal yang dilarang partai). Setelah bersama Julia, keinginannya untuk melawan partai semakin besar, hingga ia pada pertemuannya dengan O’Brien, yang awalnya menunjukkan diri sebagai anggota Persaudaraan (terj. Brotherhood), yang digambarkan sebagai kelompok oposisi partai. Namun, pada akhirnya Winston dan Julia tertangkap, dan mengetahui bahwa O’Brien bukanlah seorang anggota Persaudaraan, namun seorang “Polisi Pikiran” yang akhirnya menangkap, menyiksa, dan menyuci otaknya.

Penggambaran Orwell terkait sistem pemerintahan, kementrian-kementrian yang ada, apalagi menciptakan bahasa Newspeak yang cukup aneh, sangat baik dalam cerita ini. Orwell menyuguhkan objek teleskrin (terj. telescreen) dan menggambarkan fungsi alat itu sedemikian rupa, entah ada mic tersembunyi, atau jalan-jalan gang sempit yang  seolah tak ada telescreen. Juga menggambarkan tentang adanya ‘kasta’ terdiri dari anggota partai inti, anggota partai luar, dan proletar. Orwell telah membuat sebuah karya yang tak biasanya, sad ending, karena akhirnya perjuangan penggulingan gagal, serta Winston dan Julia dicuci otak untuk patuh dan cinta terhadap partai sekaligus “Bung Besar”.

Novel ini bukanlah novel ceria seperti Animal Farm sama sekali, tapi novel ini lebih mencekam, sadis, dan menggambarkan bagaimana kekuasaan seseorang dapat menjadi sangat dominan dalam suatu wilayah. Cocok buat yang mau belajar tentang politik, atau bagi yang mau baca-baca cerita klasik, 1984 merupakan awal yang sangat baik setelah Animal Farm.

1984 oleh George Orwell.
Pertama kali dicetak 1949.
Penerjemah : Landung Simatupang
Penerbit : Bentang Pustaka, Cetakan ketiga, Edisi III, Januari 2017.
ISBN : 978-602-291-234-7

 

Minke, Annelies.

Eropa, Indo, Pribumi.

Istilah ‘benteng’ mungkin baru saya dengar belakangan ini. Bila saya boleh mengambil arti, kiasan ‘benteng’ ini merupakan suatu hal yang tidak bisa dilanggar/dilewati, biasa dalam konteks asmara yang saling berbeda agama. Kita hidup dalam kekentalan budaya timur, Indonesia, negara berlandaskan Ketuhanan, atau bila berkenan saya sebut negara berlandaskan agama.

Menariknya, dalam ajaran agama tertentu – lebih dari satu agama – diajarkan bahwa mencari pasangan hidup haruslah sepaham, atau secara eksplisit harus satu agama dengan kita. Dari paham itulah muncul ketidakleluasaan atau pengekangan bila terjalin hubungan asmara antara dua personal berbeda keyakinan. Itulah kondisi kita sekarang.

Berbeda dengan apa yang dikisahkan Pramoedya Ananta Toer (Pram) dalam bukunya bertajuk ‘Bumi Manusia’ yang mengisahkan adanya ‘benteng’ yang diceritakan secara luar biasa. Benteng yang dimaksud disini adalah perbedaan ras, dan masalah asimilasi. Minke, tokoh utama dalam buku ini dikisahkan sebagai seorang pribumi dan merupakan siswa HBS. Siswa HBS kebanyakan adalah putra-putri orang Eropa, dan sedikit pribumi putra-putri para pejabat setempat. Menulis, membaca, berbicara dalam bahasa Belanda adalah kelebihan siswa HBS, padahal dikala itu, sangat sedikit pribumi yang dapat menulis dan membaca bahasa Belanda dengan baik.

Di lain tempat, adalah seorang anak bernama Annelies. Putri Tuan Mellema dengan Nyai Ontosoroh. Sebutan ‘nyai’ tentu merujuk pada status seseorang sebagai gundik, yang tentu pribumi. Tuan Mellema adalah seorang Eropa, yang telah memiliki istri dan anak sah di Belanda, lalu menggundik Nyai Ontosoroh dan memiliki dua anak, yaitu Robert dan Annelies. Mellema sungguh berhati baik pada awalnya, ia membuat Nyai menguasai tata cara Belanda dengan baik, bahasa Belanda, hingga gaya hidup Eropa yang membuatnya tidak seperti pribumi. Hal ini menyebabkan terbangunnya tokoh Nyai Ontosoroh menjadi sangat luar biasa. Manusia langka, seorang pribumi dengan segala sesuatu Eropa. Dengan segala kehormatannya, Nyai memimpin perusahaan suaminya tanpa cacat.

Segala asmara, tentu dimulai dari pertemuan pertama. Sungguh dusta apabila terdengar pertemuan pertama itu tidak penting. Sama seperti Minke, saat pertama bertemu dengan Annelies. Annelies digambarkan seorang yang sangat cantik rupanya dan berhasil memikat hati Minke pada kesempatan pertama. Perasaan Minke semakin menjadi saat ia diminta Nyai untuk tinggal serumah dengannya, dengan alasan ia tak pernah melihat anaknya melepaskan senyum sebaik saat ia bertemu Minke.

Kisah senang dan susah digambarkan dengan baik, terlebih saat Annelies menderita sakit yang dikarenakan Minke harus pergi beberapa saat dan berpisah darinya. Ditambah momen saat Minke dicari oleh Robert Mellema untuk dibunuh. Namun selalu ada kata-kata cinta Minke kepada Annelies sungguhlah berasal dari seorang pujangga sejati, seuntai kata-kata yang tak lazim kita dengar hari ini.

Setelah sekian lama bersama, akhirnya Minke menikahi Annelies. Minke seorang Jawa, dan Annelies seorang campuran Eropa dan Pribumi : Indo. Hari-hari setelah pernikahan memang terasa menyenangkan, hingga waktu Annelies harus dibawa paksa ke Belanda. Untuk alasan yang tidak jelas, beralaskan hukum semu, pribumi masih didiskreditkan oleh bangsa Eropa. Segala upaya hukum telah diupayakan oleh Minke dan Nyai, namun apa boleh buat, mereka tetap tak bisa menahan kepergian Annelies berdasarkan surat yang dilayangkan oleh istri resmi Tuan Mellema. Nyai, yang diperistri tidak secara sah, tidak memiliki kekuatan apa-apa dimata hukum, tentu tidak memiliki hak yang dapat diperjuangkan terhadap buah hatinya sendiri, Annelies. Minke pula, suami yang sah melalui proses pernikahan agama Islam, juga tak berdaya dimata hakim, dan dianggap pernikahannya dengan Annelies tidaklah sah menurut hukum.

“Kita kalah, Ma,” bisikku.

“Kita telah melawan, nak, Nyo, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.”

Pram menggunakan setting waktu pemerintahan kolonial, saat dimana Eropa masih merajarela di tanah Jawa dan pribumi, sebagai penduduk asli, dianggap derajatnya lebih rendah dari Eropa. Sebuah karya sastra, karya seorang maestro, sempat dilarang beredar namun terbit dalam banyak bahasa lain. Bumi Manusia adalah buku pertama dari Tetralogi Buru : ditulis saat Pram ditahan di Pulau Buru karena dugaan keterlibatan dengan G30S PKI tanpa proses hukum. Bermula diceritakan secara lisan, kemudian ditulis. Sempat dibakar di berbagai tempat, hari ini Bumi Manusia telah mendapat banyak penghargaan sastra. Dianggap membawa Marxisme, ternyata pelarangannya hanyalah politik belaka, kepentingan.

Bumi Manusia
Pramoedya Ananta Toer
Jakarta : Lentera Dipantara, Cetakan ke-16 Oktober 2010.

ISBN : 979-97312-3-2

oleh : Christopher Chandra.

catatan : buku dipinjam dari Ignatio Glory A. W. K.