kaset

siluet pepohonan kala surya terbenam
yang kau nanti setiap senja
mengingat segala ‘kan semakin gelap
menyelimuti hingga pekat

berkas cahaya yang menelisik masuk
diantara rimbun daun
saat dirimu rebah terlindung ‘payung’
dibawah panas, sekali waktu

deru mesin antara merah dan hijau
sesaat ia berjalan, akan berteriak
ditambah klakson, dan seruan
menambah ramai kala ‘melangkah’

kapan aku bisa menjadi senja ?
yang setiap ia bertemu muka
selalu baru, selalu indah
selalu mengagumkan

pun aku ingin menjadi matahari
yang silaunya menjadi cantik
saat ia tertutup daun mozaik
membawa tenang dibawah terik

tapi inilah aku,
gradien suara yang timbul
dari merah menjadi hijau
diam lalu melangkah

gradien yang kemudian mengecil
perlahan, lalu monoton
termakan aksi peloton
berakhir tak kontinu

seperti pemutar kaset, dan kasetnya
akan ada waktu kasetnya perlu dibalik
akan ada waktu penggantian baterai
akan ada waktu segalanya usang, usai.

Advertisements

tunggu nanti terka coba

aku datang menjemputmu
lalu pintu terbuka, aku melihat kesayanganku
melangkah dengan senyum terbaiknya
berucap, “hai,” dihias wangi tubuhnya

untuk setiap peluk eratmu, aku bersyukur
untuk setiap helaan nafasmu, aku senang
untuk setiap sentuh kukumu, aku bahagia
untuk setiap tingkah manjamu, aku sayang

aku menjadi hafal harum tubuhmu
bagaimana tidak, setiap aku menoleh
ada aroma khas parfummu, seraya kataku
“kamu wangi, sayang.”

untuk setiap katamu, aku menunggu
untuk setiap ceritamu, aku menanti
untuk setiap tandamu, aku menerka
untuk setiap rautmu, aku mencoba

layak batu yang menunggu tetes air
yang menjadikan indah bentuknya
seperti tanah yang menanti daun gugur
yang menjadikannya berwarna

bak pendaki menerka indahnya puncak
yang menjadikannya tenang
bagai pembalap mencoba menyalip
yang menjadikannya menang

itu saja yang membuatku merana
gelisah akan bisu yang bicara
tentang diam yang bersuara
perihal bungkam yang menolak

menunggu, menanti, menerka, mencoba

 

semesta

diam, terkapar selama satu hari
ditemani untai panjang suaramu
kita menonton drama, mungkin terbaik tahun ini
pentas dunia maya

sepi, tergeletak selama satu malam
ditemani setiap kata darimu
bersama, berimaji, mungkin terindah saat ini
asa yang utopis

senja kemarin, kuning bahkan kemerahan
menyatukan kita yang sedang sakit
mengingatkan, mungkin hanya alam saja
yang sanggup menyatukan kita secara sehat

aku yang sampai hari ini menginginkanmu,
mataku berlari kian kemari mencarimu,
ruangku hampa tanpa hadirmu,
waktuku fana sendiri tanpamu.

mimpimu, tempat aku bertamu setiap malam
suaramu, yang memompa setiap nafasku
lakumu, yang menjadi kesenanganku
untuk kamu, kesayanganku :

mungkin, hanya semesta jua yang bisa memutus kita.