pergi (2)

tak nyaman lagi itu rumah
merekah marah menyinggung mendung
usahaku tak perlu, hadirku mengganggu
hingga larut, ku diinginkan pergi ketimbang pulang

melara sepi, didesak terbenam
menyambut gelap hingga pekat
aku selesai degan rumah dan isinya
melangkah sendiri berteman nagam

biar ia kembali menjadi tembok-tembok
tiada rasa hangat di dalamnya
tiada rasa aman padanya
tiada rasa rindu tanpanya

bertahan kata, mata, dan materi
hingga semua menjadi lumrah, biasa, dan tak salah
atau mungkin salahku tak berubah, tak pergi saja
masih saja berpegang akal dan hati

Advertisements

anomali

meraung dibalik kaca
sesekali ia terdiam
menunduk duka,
rahasia

menetes dosa
terlupa doa
menutup mata
menoreh luka

kita yang diam seakan kelam
membisu murka melenyap terka
berlari darah mengalir punah
meracun iba tak jua bisa

mendekap, tiarap
kalap meratap
tiap cuap
menguap

roti dan mentega
mie dan bakso
kopi dan rokok
teri dan pancing

ya, yang terakhir itu aku, anomali.