kuorum

kuorum/ku·o·rum/ n jumlah minimum anggota yang harus hadir dalam rapat, majelis, dan sebagainya (biasanya lebih dari separuh jumlah anggota) agar dapat mengesahkan suatu putusan

anda yang bosan membahas ini, ya dilewat saja. daripada dibaca dan anda gondok.

perkenalkan, saya ‘gembel’ AMISCA, ya titel yang saya buat dan akui sendiri. Mahasiswa semester 6, yang mulai bosan, mulai sadar betapa …

prolog. jadi malam tadi saya menghadiri uji panelis calon senator dalam rangka pemilu raya (PEMIRA) AMISCA 2017 (-2018). sesuai kesepakatan saat audiensi, uji panelis tidak memerlukan kuorum untuk berjalan. eh tapi hearing biasa juga jalan-jalan aja tuh ga kuorum. eh.

Sebelumnya, saya minta maaf untuk semua yang baca ini, ya benar saya salah karena tidak memerhatikan ini pada saat audiensi yang empat kali dan sampai tembus jam sebelas malam. Saya minta maaf. Sejujurnya saya baru menyadari pada tata aturan, hearing yang tidak kuorum tetap dilanjutkan, hanya berpengaruh pada pengurangan poin. Ya, saya juga sudah ditegur oleh Bang Step P’12. Toh pengurangan poin terkait kuorum juga tidak bisa membuat poin calon menjadi nol (diskualifikasi), walau pelanggarannya maksimal : tidak pernah ada angkatan yang kuorum.

Oke kita runut sedikit. pada saat saya pertama kali masuk ke AMISCA, saya mengajukan diri menjadi ketua PEMIRA 2016. Pada PEMIRA kami, tentu ada aturan mengenai kuorum dan sanksinya tentu berat : sangat memungkinkan untuk mendiskualifikasi calon karena masalah kuorum. Tentu saat itu kami panitia berusaha untuk memenuhi kuorum dengan segala macam cara – termasuk dari calon-calon terkait karena sama-sama tidak mau mengulang PEMIRA.

Menariknya PEMIRA kali ini, setelah saya melakukan dosa besar saat audiensi, ternyata kuorum tak lagi terlalu dianggap, atau kalau kata Efek Rumah Kaca sih Sebelah Mata. Kuorum sebatas angka, sebatas jumlah kepala yang ada di ruangan tanpa tau isi kepalanya ada di mana. Ditambah pada hearing-hearing sebelumnya, saat perhitungan kuorum, saya melihat, dan ada panitia PEMIRA 2017 yang mengeluh bahwa calon-calon hanya duduk tenang bahkan bergurau bersama tim promotor masing-masing, padahal kuorum belum tercapai serta tanpa berusaha lebih untuk mengajak massanya. Massa yang kelak mereka pimpin. ‘ga kuorum poin gue masih aman kok’

Setelah pengakuan dosa saya di atas, yang lebih menarik lagi adalah massa AMISCA sendiri. Kawan, maafkan saya bila anda tersinggung, toh saya juga melakukan ini tanpa sadar. Suasana hearing selalu ribut. Sayangnya saat tak ribut, berarti massa sedang sibuk pada gawainya masing-masing. Semakin lama, semakin nyata bahwa kuorum saat ini tak lagi mementingkan kualitas peserta forum, ketersampaian materi ke massa, namun hanya sebatas ukuran angka lalu setelah termin satu langsung pulang. Saya tak bermaksud menyinggungmu kawan. Tak apalah bila sepanjang hadirmu, terbuka telingamu lebar-lebar, namun sepenglihatanku, tidak. Maaf.

AD/ART AMISCA amandemen terakhir (yang saya peroleh di Amisca Dasar 2016), tertulis musyawarah anggota minimal dihadiri oleh setengah-n plus satu massa. Menurut saya, para leluhur kita membuat ini sebagai sebuah sistem yang dapat menjaga nilai. Konsep utamanya selalu begitu. Ada nilai-nilai yang dipelihara, namun seiring bertambahkan kuantitas, diperlukan suatu sistem untuk mengatur populasi agar nilai tetap terjaga. Namun yang saya sadari di banyak kondisi, nyatanya sistem telah memakan nilai, lalu sistem mulai menjadi hambar, dan ditinggalkan populasi.

Tergelitik, tadi sore ada yang menyambungkan masalah tak pernah kuorumnya hearing dengan partisipasi massa kelak di AMISCA. Saya tak tahu dan kurang ngobrol sama om tante senior saya, apakah ada hubungan langsung dari kuorum hearing ke partisipasi massa nantinya. Jujur, saya ada pikiran itu berpengaruh, dan ada juga sisi yang mengatakan tak ada hubungannya. Sampai hari ini hearing tak pernah kuorum. Entah kelak saat program kerja berjalan satu-satu, apakah akan ada massa yang mau datang ? Sisi  lainnya, mungkin memang massa terpartisi, salah satu kubu ingin ke mana, dan kubu yang lain ke mana.

Saya juga pernah mendapat pandangan dari Pak Nizar – beliau seorang dosen dan mantan ketua himpunan. Sarannya, “mengapa mematok angka kuorum sebegitu besar ? Jangan bikin susah-susah, toh orang yang hadir juga tidak semuanya mendengarkan. Lebih baik sedikit tapi mendengarkan semua.” Hal ini saya dapat pada saat meminta tanda tangan beliau untuk proposal PEMIRA tahun lalu. Saat itu saya menjelaskan alasan, sedikit membantah, karena saya masih berpikir himpunan se-ideal itu. Hari ini saya bilang, Pak Nizar benar.

Mungkin alasan massa adalah satu : cape. Lelah dengan semua drama di PEMIRA atau bahkan di himpunan, lelah dengan semua kepalsuan yang dibawakan calon, atau memang sudah tak lagi peduli terkait himpunan. Kawan, kadang saya sedih melihat himpunan kosong sedari pagi, selesai kelas hingga malam. Saya iri dengan mereka anak-anak timur jauh lainnya, yang terkadang saat saya masih di himpunan jam sebelas malam, lalu mereka turun berbondong-bondong berjahim, dari atas seperti masih akan melanjutkan forum. Pun saya iri dengan unit-unit yang memiliki ikatan kekeluargaan yang kuat, kondisi yang dapat membuat nyaman berada di sana.

Pertanyaannya, untuk apa hearing kalau tak didengar ? Hearing itu untuk massa, atau panitia saja, atau mungkin untuk promotor saja ? Kuorum adalah masalah kita bersama, masalah saya juga. Tetapi, saya melihat saat kuorum ditiadakan seperti uji panelis casenator malam tadi. Kosong, sepi. Ruang kelas yang begitu besarnya, diisi segelintir orang : panitia PEMIRA, cakahim dan beberapa promotor, BP, dan satu dua orang massa. Kawan, saya tak lagi tahu harus apa, harus menjadi apa, harus bagaimana.

Setidaknya, ada kawan kita yang sedang bicara di depan, yuk kita dengarkan. Tinggalkan segala game dan laprakmu. Iya benar, saya munafik, saya juga berusaha kok. Namun saya rindu setiap forum ada banyak yang bertanya, setidaknya saya tahu banyak yang mendengarkan isi forum, ada banyak orang yang saling bersebrangan pendapat lalu dibicarakan bersama. Saya rindu. Saya kangen.

Tabik,

Christopher Chandra – ‘gembel’ AMISCA

 

Advertisements

anomali

meraung dibalik kaca
sesekali ia terdiam
menunduk duka,
rahasia

menetes dosa
terlupa doa
menutup mata
menoreh luka

kita yang diam seakan kelam
membisu murka melenyap terka
berlari darah mengalir punah
meracun iba tak jua bisa

mendekap, tiarap
kalap meratap
tiap cuap
menguap

roti dan mentega
mie dan bakso
kopi dan rokok
teri dan pancing

ya, yang terakhir itu aku, anomali.