Literasi

li.te.ra.si
Kemampuan menulis dan membaca; kemampuan atau keterampilan dalam bidang atau aktivitas tertentu (KBBI Daring)

lit.er.a.cy
The state of being literate; the ability to read and write (Miriam Webster’s)

Bersyukur, saya masuk ke universitas negeri. Saat saya SMP dan SMA, entah karena salah pergaulan, atau karena memang tidak ada pemicu (trigger), jujur saya kurang suka membaca. Hal yang saya baca satu-satunya adalah komik. Ya, menurut saya saat ini, membaca komik tak lagi masuk dalam kategori membaca.

Pada awal tahun saya di ITB, juga masih malas untuk membaca, padahal stok buku yang belum dibaca cukup banyak di rumah. Namun, saat saya memasuki tingkat 2 di kampus ini, saya bertemu dengan salah seorang teman saya yang merekomendasikan untuk membaca buku ‘Bumi Manusia’ oleh Pramoedya Ananta Toer. Saat pertama melihat buku itu, kesan pertama saya adalah : tebal. Ya, dulu saya mungkin bisa dibilang agak alergi dengan buku tebal, karena tidak pernah bisa untuk menyelesaikannya. Buku itu saya pinjam sekitar bulan September/Oktober, dan baru benar-benar selesai dibaca Desember akhir. Awalnya, saya beralasan, karena sibuk kuliah dan tugas membuat saya sulit meluangkan waktu untuk membaca dan baru dapat membaca kembali saat libur semester. Namun, pada saat saya berhasil menyelesaikan buku tersebut, mendadak saya menjadi senang membaca sekaligus nge-fans sama Pram.

Bukan saja hanya senang membaca, saya akhirnya mulai ingin mengetahui sejarah Marxisme di Indonesia, karena saya membaca dalam sejarah hidup Pram, bercerita tentang penahanannya di Pulau Buru, dan pembakaran atau pelarangan karya-karyanya karena dianggap bermuatan Marxisme. Akhirnya dari sana, saya mulai mengenal penulis-penulis hebat, nama Tan Malaka yang awalnya asing bagi saya, hari ini menjadi penulis yang bukunya saya ingin baca bukunya menyeluruh. Disamping yang bermuatan politik, saya pun akhirnya mulai membuka diri ke arah novel-novel. Karena saya sendiri tidak tahu harus mulai dari mana, akhirnya saya melakukan pencarian terkait buku-buku yang harus dibaca (Must Read Books) dan menemukan banyak karya-karya penulis terkenal internasional.

To Kill a Mockingbird menjadi pilihan saya waktu itu (karena ada di perpus), dan tak lama kemudian saya menekan diri sendiri untuk selalu ada buku yang sedang dibaca, tak perduli apapun genre-nya, asal saya kira ulasannya baik, maka akan saya ‘lahap’ juga. Saya juga baru mengenal nama-nama seperti George Orwell, F. Scott Fitzgerald, Albert Camus, Ernest Hemingway saat saya kuliah ini. Dibandingkan teman-teman saya, mereka lebih banyak membaca buku dari penulis-penulis dalam atau luar negeri sejak mereka SMP. Namun, sebagai pembenaran, tidak ada yang terlalu terlambat untuk saya membaca, dan saya pun mulai mencari/meminjam buku-buku yang bersangkutan.

Bagi saya membaca itu candu. Seperti sayang rasanya bila saya hanya bersantai pada waktu senggang tanpa membaca. Apalagi berada disekitar lingkungan pembaca, membuat diskusi buku menjadi lebih asyik ketimbang hanya membaca saja lalu tidak didiskusikan. Dengan membaca, setidaknya saya mengejar kemampuan literasi anak-anak diluar negeri sana, yang membaca Animal Farm atau 1984 sejak usia dini. Dikemudian hari, saya bercita-cita tentang literasi menjadi sebuah tren yang nge-hype dikalangan anak muda dan akhirnya di semua kalangan.

“Gue udah baca buku ini nih, plotnya gila banget sih,”

“Eh, lu punya buku ini ga ? Kok gue susah banget ya nyari buku ini ?”

“Oy, kalo lu udah kelar baca, gue pinjem yee”

Sebuah angan, yang mungkin dicapai namun hampir tak mungkin. Melihat anak muda hari ini telah ‘menuhankan’ smartphone dan terjerat dalam media sosial yang menghilangkan kemampuan komunikasi secara verbal. Saat membaca tak lagi menarik karena bila membaca e-book membuat sakit mata, namun menonton Youtube berjam-jam tidak pusing. Saat mengatakan membeli buku itu mahal, tetapi membeli kuota internet itu kebutuhan pokok. Betapa tidak terbayangkan, bagaimana generasi muda kelak di negara berkembang ini yang hanya ‘dicekoki’ produk negara maju dan nyaman dalam keadaan tersebut.

“Seorang terpelajar harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran, apalagi perbuatan,” – Jean Marais dalam Bumi Manusia

Sudah waktunya kita mengurangi penggunaan smartphone dan mulai duduk membuka buku, membaca.

 

Minke, Annelies.

Eropa, Indo, Pribumi.

Istilah ‘benteng’ mungkin baru saya dengar belakangan ini. Bila saya boleh mengambil arti, kiasan ‘benteng’ ini merupakan suatu hal yang tidak bisa dilanggar/dilewati, biasa dalam konteks asmara yang saling berbeda agama. Kita hidup dalam kekentalan budaya timur, Indonesia, negara berlandaskan Ketuhanan, atau bila berkenan saya sebut negara berlandaskan agama.

Menariknya, dalam ajaran agama tertentu – lebih dari satu agama – diajarkan bahwa mencari pasangan hidup haruslah sepaham, atau secara eksplisit harus satu agama dengan kita. Dari paham itulah muncul ketidakleluasaan atau pengekangan bila terjalin hubungan asmara antara dua personal berbeda keyakinan. Itulah kondisi kita sekarang.

Berbeda dengan apa yang dikisahkan Pramoedya Ananta Toer (Pram) dalam bukunya bertajuk ‘Bumi Manusia’ yang mengisahkan adanya ‘benteng’ yang diceritakan secara luar biasa. Benteng yang dimaksud disini adalah perbedaan ras, dan masalah asimilasi. Minke, tokoh utama dalam buku ini dikisahkan sebagai seorang pribumi dan merupakan siswa HBS. Siswa HBS kebanyakan adalah putra-putri orang Eropa, dan sedikit pribumi putra-putri para pejabat setempat. Menulis, membaca, berbicara dalam bahasa Belanda adalah kelebihan siswa HBS, padahal dikala itu, sangat sedikit pribumi yang dapat menulis dan membaca bahasa Belanda dengan baik.

Di lain tempat, adalah seorang anak bernama Annelies. Putri Tuan Mellema dengan Nyai Ontosoroh. Sebutan ‘nyai’ tentu merujuk pada status seseorang sebagai gundik, yang tentu pribumi. Tuan Mellema adalah seorang Eropa, yang telah memiliki istri dan anak sah di Belanda, lalu menggundik Nyai Ontosoroh dan memiliki dua anak, yaitu Robert dan Annelies. Mellema sungguh berhati baik pada awalnya, ia membuat Nyai menguasai tata cara Belanda dengan baik, bahasa Belanda, hingga gaya hidup Eropa yang membuatnya tidak seperti pribumi. Hal ini menyebabkan terbangunnya tokoh Nyai Ontosoroh menjadi sangat luar biasa. Manusia langka, seorang pribumi dengan segala sesuatu Eropa. Dengan segala kehormatannya, Nyai memimpin perusahaan suaminya tanpa cacat.

Segala asmara, tentu dimulai dari pertemuan pertama. Sungguh dusta apabila terdengar pertemuan pertama itu tidak penting. Sama seperti Minke, saat pertama bertemu dengan Annelies. Annelies digambarkan seorang yang sangat cantik rupanya dan berhasil memikat hati Minke pada kesempatan pertama. Perasaan Minke semakin menjadi saat ia diminta Nyai untuk tinggal serumah dengannya, dengan alasan ia tak pernah melihat anaknya melepaskan senyum sebaik saat ia bertemu Minke.

Kisah senang dan susah digambarkan dengan baik, terlebih saat Annelies menderita sakit yang dikarenakan Minke harus pergi beberapa saat dan berpisah darinya. Ditambah momen saat Minke dicari oleh Robert Mellema untuk dibunuh. Namun selalu ada kata-kata cinta Minke kepada Annelies sungguhlah berasal dari seorang pujangga sejati, seuntai kata-kata yang tak lazim kita dengar hari ini.

Setelah sekian lama bersama, akhirnya Minke menikahi Annelies. Minke seorang Jawa, dan Annelies seorang campuran Eropa dan Pribumi : Indo. Hari-hari setelah pernikahan memang terasa menyenangkan, hingga waktu Annelies harus dibawa paksa ke Belanda. Untuk alasan yang tidak jelas, beralaskan hukum semu, pribumi masih didiskreditkan oleh bangsa Eropa. Segala upaya hukum telah diupayakan oleh Minke dan Nyai, namun apa boleh buat, mereka tetap tak bisa menahan kepergian Annelies berdasarkan surat yang dilayangkan oleh istri resmi Tuan Mellema. Nyai, yang diperistri tidak secara sah, tidak memiliki kekuatan apa-apa dimata hukum, tentu tidak memiliki hak yang dapat diperjuangkan terhadap buah hatinya sendiri, Annelies. Minke pula, suami yang sah melalui proses pernikahan agama Islam, juga tak berdaya dimata hakim, dan dianggap pernikahannya dengan Annelies tidaklah sah menurut hukum.

“Kita kalah, Ma,” bisikku.

“Kita telah melawan, nak, Nyo, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.”

Pram menggunakan setting waktu pemerintahan kolonial, saat dimana Eropa masih merajarela di tanah Jawa dan pribumi, sebagai penduduk asli, dianggap derajatnya lebih rendah dari Eropa. Sebuah karya sastra, karya seorang maestro, sempat dilarang beredar namun terbit dalam banyak bahasa lain. Bumi Manusia adalah buku pertama dari Tetralogi Buru : ditulis saat Pram ditahan di Pulau Buru karena dugaan keterlibatan dengan G30S PKI tanpa proses hukum. Bermula diceritakan secara lisan, kemudian ditulis. Sempat dibakar di berbagai tempat, hari ini Bumi Manusia telah mendapat banyak penghargaan sastra. Dianggap membawa Marxisme, ternyata pelarangannya hanyalah politik belaka, kepentingan.

Bumi Manusia
Pramoedya Ananta Toer
Jakarta : Lentera Dipantara, Cetakan ke-16 Oktober 2010.

ISBN : 979-97312-3-2

oleh : Christopher Chandra.

catatan : buku dipinjam dari Ignatio Glory A. W. K.

“Gejolak Massa”

Sedikit cerita terkait “gejolak massa” yang mungkin belum dijawab oleh MPA di grup FB, saya sebagai ketua panpel akan mencoba menjawab. Lebih kurangnya mohon dikoreksi, sila menikmati. Tentu tidak objektif, tentu mungkin tak lagi netral, rangkaian PEMIRA AMISCA 2016 telah berakhir saat saya membuat tulisan ini.

Semua gejolak massa AMISCA pada pemira ini bermula saat pelaksanaan hearing 3 untuk cakahim yang berbentuk debat, dilaksanakan di amphiteather GKU Barat pada tanggal 9 Desember 2016. Kami menjanjikan mulai jam 18.45, namun sesuai tata aturan semua cakahim dan timsesnya perlu hadir 15 menit sebelum acara dimulai, yaitu 18.30. Sayangnya, saat waktu telah menunjukkan 18.30 ketua komisi disiplin (komdis) saya, Diah Zn’15, tidak melihat keberadaan salah satu timses cakahim #1 (Rifki Pd’14). Hal ini mengakibatkan cakahim yang bersangkutan mendapatkan sanksi poin. Kesalahan kami yang pertama adalah kami tidak memiliki sistem pencatatan waktu / absensi yang disertai timestamp, dan pengambilan keputusan hanya didasarkan atas mata komdis saja dan tanpa konfirmasi ke cakahim yang bersangkutan.  Poin masing-masing cakahim saat itu hanya tersisa 35 dari 100, dikarenakan di hearing-hearing sebelumnya juga tidak kuorum dan berakhir hearing bebas. Cakahim #1 saat itu kami kurangi poinnya sebanyak 5 poin sesuai tata aturan menjadi 30.

Saat itu, hanya kuorum angkatan 2015 saja yang memenuhi. Sebagai sanksi kuorum 2013 dan 2014 yang tidak terpenuhi, maka sesuai tata aturan juga poin cakahim kami kurangi 30 poin yang mengakibatkan cakahim #1 poinnya nol, alias diskualifikasi dan menyisakan #2 dan #3 untuk melanjutkan rangkaian acara PEMIRA. Barulah saat itu, massa menjadi sangat proaktif bertanya kepada panitia. Ada yang menyalahkan sistem yang ada, sistem yang telah disetujui massa pada saat audiensi 4 jilid, ada juga yang akhirnya meminta panpel untuk berunding dengan MPA sebagai ‘pemberi tugas’. Kesalahan kami yang kedua adalah tidak konfirmasinya kami satu sama lain, sehingga sempat terjadi penyampaian informasi yang salah oleh komdis kami dan harus diralat dua kali.

Atas saran dari MPA, kami meminta keterangan dari cakahim yang bersangkutan dan ketua timses yang bersangkutan terkait apakah memang sudah melihat timses yang kami anggap terlambat datang pada jam 18.30, dan keduanya menjawab tidak. Keputusan kami bulat, meskipun dinilai ada kesalahan sistem. Rangkaian acara PEMIRA dilanjutkan dengan 2 orang cakahim dan 1 orang casenat.

Kami panitia PEMIRA, mewajibkan cakahim untuk melakukan kampanye langsung. Menurut informasi yang kami dapat, ketiga cakahim dan casenat beserta timses masing-masing, telah menyediakan waktu untuk melaksanakan kampanye langsung di hari Sabtu, 10 Desember 2016, sehari setelah hearing 3 yang akhirnya gagal namun massa memilih untuk melaksanakan rangkaian acara sesuai keingingan panitia. Diakui, oleh kedua cakahim yang tersisa, publikasinya minim – dengan alasan takut mengganggu fokus massa sebelum hearing 3.

Jam 9 pagi mereka memplotkannya pada rundown, dan telah melaporkannya kepada panitia sesuai prosedur. Kesalahan kami yang ketiga adalah kami tidak datang tepat waktu saat jam 9 pagi itu, dan kesalahan saya pribadi yang memang baru dapat hadir jam 11. Perwakilan panitia yang datang adalah Kadiv Komdis (Diah Zn’15) dan Kadiv Acara (Glory Sm’15) dan datang jam 9.20. Kedua perwakilan tersebut melihat tidak ada massa yang datang sama sekali, dan memutuskan secara sepihak untuk membubarkan kampanye tersebut. Namun, dari panitia menyatakan tidak adanya pengurangan poin bagi setiap cakahim yang terlibat, karena dianggap tujuan awal kampanye tidak tercapai karena ketidakadaan massa.

Sampai di sini, saya yakin anda telah mulai gusar, merasa panitia tidak netral, merasa panitia ‘lembek’.

Malam harinya, banyak orang yang cukup ‘menekan’ kadiv komdis saya dengan segala alasan, dan ada juga yang berniat melaporkan pelanggaran secara tertulis.  Karena saat itu Diah merasa tidak enak bila diobrolkan di chat, sehingga kami memplotkan waktu jam 1 siang keesokan harinya membuka forum khusus untuk membahas keputusan panitia ini.

Jam 1 siang, kami standby di himpunan, menunggu orang-orang yang berniat ‘melaporkan’ dan ‘ngobrol’ terkait keputusan panitia. Hadir ring 1 panitia, satu orang MPA (merangkap moderator) dan pihak penggugat. Diskusi dilakukan sangat alot, sehingga di akhir forum ‘penggugat’ walk-out dari forum semuanya, dan keputusan forum saat itu adalah tidak mengurangi poin. Pembahasan detailnya tidak saya masukkan karena berpotensi adanya pemikiran-pemikiran liar yang tak berdasar dan diluar kami panitia untuk mengklarifikasinya satu per satu.

Malam itu, ketua MPA beserta semua anggota MPA membuat semacam multi-chat melalui platform Line dan mengundang saya, Glory dan Diah.  Ketua MPA ingin menanyakan keberlangsungan forum tadi siang, karena tidak dapat hadir. Namun sayang, karena saya baru dapat waktu kosong saat malam, mengakibatkan Glory dan Diah tak lagi aktif di Line. Begitu juga anggota MPA, tidak semuanya aktif ‘bersuara’. Arah chat tidak terkontrol, penuh emosi, dan tak lagi sehat. Kesalahan saya pribadi, saya jujur terbawa emosi. Poin pentingnya, MPA merasa keputusan panitia untuk tidak mengurangi poin tidak tepat, sehingga MPA ‘membubarkan’ panitia pelaksana karena dianggap ‘melenceng’. Sedikit informasi, yang tersisa ‘cuap-cuap’ di grup chat tinggal saya dan salah satu anggota MPA. Saya sendiri sadar, ini atasan saya, sehingga saya sesegera mungkin memberikan informasi kepada panitia yang lain bahwa kita telah dibubarkan.

Namun sayang, keesokan harinya diadakan forum lagi oleh MPA dan dihadiri oleh 3 orang MPA, cakahim, casenat, timses, saya, dan Glory. Tujuan forum yang awalnya saya kira adalah semacam ‘sosialisasi’ kepada cakahim yang bersangkutan, bahwa PEMIRA kali ini gagal dan akan diulang. Namun, saat inilah saya benar terkejut. Pembubaran panpel, yang kami kira adalah keputusan MPA, ternyata tidak. Keputusan itu hanya diambil oleh salah satu anggota MPA yang saat malam sudah sama-sama ‘batu’ dengan saya. Singkat cerita, anggota MPA yang bersangkutan walk-out dari forum, dan menyisakan hanya 2 orang MPA dari angkatan 2014.

Tujuan forum ternyata adalah untuk mengklarifikasi, apakah seharusnya poin cakahim dikurangi atau tidak. Saat itu saya cukup geram, mengetahui keputusan yang kemarin bukanlah keputusan MPA. Terkesan main-main. Saat mereka membahas teknis, saya tak diizinkan bersuara karena saya tidak hadir langsung kemarin, sehingga saya ‘minggat’ ke himpunan.

Saat saya kembali, forum telah ada di termin terakhir. Informasi yang saya dapat adalah, MPA sempat menganggap panpel tidak netral dalam mengambil keputusan terkait kampanye kemarin karena sempat terlihat adanya pembicaraan antara timses dan panpel. MPA mengira keputusan diambil setelah kami diskusi, kenyataannya tidak. Keputusan diumumkan, baru cakahim sibuk mendatangi panitia saat itu (Diah Zn’15). Setelah melewati diskusi sebelumnya, akhirnya MPA setuju bahwa seharusnya tidak ada pengurangan poin. Sudah ditanyakan sebelumnya, bahwa keputusan MPA saat ini akan menjadi suara MPA, bukan suara perorangan.

MPA memutuskan bahwa panpel belum dibubarkan, dan PEMIRA dilanjutkan karena tidak ada pengurangan poin bagi cakahim yang bersangkutan.

Tulisan ini mungkin banyak mengandung kesalahan, banyak yang menyinggung salah satu pihak atau banyak pihak.

Salam,

Christopher Chandra (Lu’15)
Ketua Panitia PEMIRA HMK ‘AMISCA’ ITB 2016