meriang

aku meriang.
dibuatnya aku takut
panas atau dingin
diantara aku dan dia

aku sakit.
dipaksanya aku kalut
senja atau malam
diantara kiri dan kanan

aku bertanya,
apa trek lariku terlalu lebar ?
karena kutemukan orang lain
sedang berlari

aku terdiam,
tersadar.
memang selalu
seperti itu

aku bernyanyi.
menyuarakan sendu
mengandung hampa
melahirkan duka

meriang
riang
ria

 

Advertisements

tenggat

aku ditinggalmu tanpa kata
aku menjawab tak berdasar
walau sebuah kata banal
ini semua tentang harga

bunuh aku dengan api
jangan dengan waktu
bunuh aku dengan gas
jangan dengan sepi

aku tak rela
melayu saat tenggat
saat kabar terlalu klise
saat gambar terlalu pose

saat akhir
aku rela
waktu menjadi ajal
sepi menjadi mair

adzan

Karena dialog tak kunjung usai,
malam itu ‘ku putuskan untuk bermalam di ‘rumah kedua’-ku.
Melangkahi malam, aku pun terlelap dengan bayangmu di benakku.
Diiringi segala macam topik, tawa yang dipaksakan, hingga petikan gitar sumbang.

Aku terbangun pada saat adzan subuh memanggil.
Walau aku tak sujud dalam khusyuk,
aku selalu terkagum pada gulungan suara adzan,
yang mencipta harmoni melawan senyap.

Menyeruak menggugah sepi, membiarkanku tak kesepian di antara gelap.
Meretas hampa, mengingatkanku tak pernah sungguh-sungguh sendiri.
Merusak kecutnya dingin, melayangkanku seperti didekap pengap olehmu.
Memecah tenang, menyanyikan kata yang menelisik hati, layak lakumu.

Sungguh aku menunggu.
Menanti.
Sekat.
Mati.