tunggu nanti terka coba

aku datang menjemputmu
lalu pintu terbuka, aku melihat kesayanganku
melangkah dengan senyum terbaiknya
berucap, “hai,” dihias wangi tubuhnya

untuk setiap peluk eratmu, aku bersyukur
untuk setiap helaan nafasmu, aku senang
untuk setiap sentuh kukumu, aku bahagia
untuk setiap tingkah manjamu, aku sayang

aku menjadi hafal harum tubuhmu
bagaimana tidak, setiap aku menoleh
ada aroma khas parfummu, seraya kataku
“kamu wangi, sayang.”

untuk setiap katamu, aku menunggu
untuk setiap ceritamu, aku menanti
untuk setiap tandamu, aku menerka
untuk setiap rautmu, aku mencoba

layak batu yang menunggu tetes air
yang menjadikan indah bentuknya
seperti tanah yang menanti daun gugur
yang menjadikannya berwarna

bak pendaki menerka indahnya puncak
yang menjadikannya tenang
bagai pembalap mencoba menyalip
yang menjadikannya menang

itu saja yang membuatku merana
gelisah akan bisu yang bicara
tentang diam yang bersuara
perihal bungkam yang menolak

menunggu, menanti, menerka, mencoba

 

Advertisements

semesta

diam, terkapar selama satu hari
ditemani untai panjang suaramu
kita menonton drama, mungkin terbaik tahun ini
pentas dunia maya

sepi, tergeletak selama satu malam
ditemani setiap kata darimu
bersama, berimaji, mungkin terindah saat ini
asa yang utopis

senja kemarin, kuning bahkan kemerahan
menyatukan kita yang sedang sakit
mengingatkan, mungkin hanya alam saja
yang sanggup menyatukan kita secara sehat

aku yang sampai hari ini menginginkanmu,
mataku berlari kian kemari mencarimu,
ruangku hampa tanpa hadirmu,
waktuku fana sendiri tanpamu.

mimpimu, tempat aku bertamu setiap malam
suaramu, yang memompa setiap nafasku
lakumu, yang menjadi kesenanganku
untuk kamu, kesayanganku :

mungkin, hanya semesta jua yang bisa memutus kita.

 

keramaian

kala setiap suara diam
kala setiap cahya redup
kala setiap kata bungkam
kala setiap tawa lenyap

sesering itulah aku mengingatmu, mengenangmu, merindumu
layak daun kering yang jatuh tak tentu arah
yang kemudian hancur terkoyak angin dan air
tak seperti tatkala ia masih hijau nan gagah

aku benci keramaian
ramai orang-orang bermain peran,
memasang muka nomor ke-sekian
terkekeh keras padahal bosan

keramaian, yang kadang membuat aku terlarut
dalam palsunya raut manusia
yang terkadang, membuatku lupa akan kamu
seakan hidup tetap sama tanpamu

aku benci keramaian, karena kamu tak hadir di sana
kamu tak menampakkan diri pada orang banyak
kamu tak suka jua pentas drama komunal itu
kamu yang hanya hadir dalam kesendirianku

saat aku bersamamu, aku tak punya wajah lain
aku tak sanggup membuat pertujukkan monolog berhadapan denganmu
sungguh aku tahu batin kita erat terjalin
sehingga dusta ‘kan jelas tahu selalu

aku yang menantimu dalam sepi, dalam gelap nian hitam
karena aku takkan menemukanmu dalam riang
justru dalam kosong, kamu ada di sana
membawakan riaku meluap-luap

sayang,
kita hidup dalam terang, bukan gulita.