anomali

meraung dibalik kaca
sesekali ia terdiam
menunduk duka,
rahasia

menetes dosa
terlupa doa
menutup mata
menoreh luka

kita yang diam seakan kelam
membisu murka melenyap terka
berlari darah mengalir punah
meracun iba tak jua bisa

mendekap, tiarap
kalap meratap
tiap cuap
menguap

roti dan mentega
mie dan bakso
kopi dan rokok
teri dan pancing

ya, yang terakhir itu aku, anomali.

Advertisements

pergi

datang optimis
pergi pesimis

mula aktivis
kini apatis

dulu koleris
sekarang skeptis

kemarin aktris
hari ini tragis

malam tadi kritis
dini hari krisis

aku sadar merupakan egois
juga seorang oportunis

kaset

siluet pepohonan kala surya terbenam
yang kau nanti setiap senja
mengingat segala ‘kan semakin gelap
menyelimuti hingga pekat

berkas cahaya yang menelisik masuk
diantara rimbun daun
saat dirimu rebah terlindung ‘payung’
dibawah panas, sekali waktu

deru mesin antara merah dan hijau
sesaat ia berjalan, akan berteriak
ditambah klakson, dan seruan
menambah ramai kala ‘melangkah’

kapan aku bisa menjadi senja ?
yang setiap ia bertemu muka
selalu baru, selalu indah
selalu mengagumkan

pun aku ingin menjadi matahari
yang silaunya menjadi cantik
saat ia tertutup daun mozaik
membawa tenang dibawah terik

tapi inilah aku,
gradien suara yang timbul
dari merah menjadi hijau
diam lalu melangkah

gradien yang kemudian mengecil
perlahan, lalu monoton
termakan aksi peloton
berakhir tak kontinu

seperti pemutar kaset, dan kasetnya
akan ada waktu kasetnya perlu dibalik
akan ada waktu penggantian baterai
akan ada waktu segalanya usang, usai.