semesta

diam, terkapar selama satu hari
ditemani untai panjang suaramu
kita menonton drama, mungkin terbaik tahun ini
pentas dunia maya

sepi, tergeletak selama satu malam
ditemani setiap kata darimu
bersama, berimaji, mungkin terindah saat ini
asa yang utopis

senja kemarin, kuning bahkan kemerahan
menyatukan kita yang sedang sakit
mengingatkan, mungkin hanya alam saja
yang sanggup menyatukan kita secara sehat

aku yang sampai hari ini menginginkanmu,
mataku berlari kian kemari mencarimu,
ruangku hampa tanpa hadirmu,
waktuku fana sendiri tanpamu.

mimpimu, tempat aku bertamu setiap malam
suaramu, yang memompa setiap nafasku
lakumu, yang menjadi kesenanganku
untuk kamu, kesayanganku :

mungkin, hanya semesta jua yang bisa memutus kita.

 

Advertisements

keramaian

kala setiap suara diam
kala setiap cahya redup
kala setiap kata bungkam
kala setiap tawa lenyap

sesering itulah aku mengingatmu, mengenangmu, merindumu
layak daun kering yang jatuh tak tentu arah
yang kemudian hancur terkoyak angin dan air
tak seperti tatkala ia masih hijau nan gagah

aku benci keramaian
ramai orang-orang bermain peran,
memasang muka nomor ke-sekian
terkekeh keras padahal bosan

keramaian, yang kadang membuat aku terlarut
dalam palsunya raut manusia
yang terkadang, membuatku lupa akan kamu
seakan hidup tetap sama tanpamu

aku benci keramaian, karena kamu tak hadir di sana
kamu tak menampakkan diri pada orang banyak
kamu tak suka jua pentas drama komunal itu
kamu yang hanya hadir dalam kesendirianku

saat aku bersamamu, aku tak punya wajah lain
aku tak sanggup membuat pertujukkan monolog berhadapan denganmu
sungguh aku tahu batin kita erat terjalin
sehingga dusta ‘kan jelas tahu selalu

aku yang menantimu dalam sepi, dalam gelap nian hitam
karena aku takkan menemukanmu dalam riang
justru dalam kosong, kamu ada di sana
membawakan riaku meluap-luap

sayang,
kita hidup dalam terang, bukan gulita.

hujan

sore itu, menanggal beban sejenak
terdengar nafas stabil, padahal dalam sesak
ditemani musik tak henti riak
menyapa rasa lama ingin teriak

kita bersama lagi
dalam risau dalam ragu
mengalun lagu tua
berlomba dengan hujan

kamu disebelahku,
aku tahu ini hal berat
bersama menatap kosong pada jalan
tak siap usai, pun hujan kala itu

kita harus terhapus
kembali menjadi aku dan kamu
tak boleh lagi ada kita
aku dan kamu sekata

hujan itu reda
mampu
bisa
ya

satu minggu tanpa salam
satu minggu pertama
meski tak ada pagi,
selalu ada yang lain

akulah yang tak tahan, tak kuat, tak mau
meski aku tahu di sana pun kau merana

aku selalu takut waktu ini datang
bodohnya terus berlanjut
tersekap nyaman dan hangat
diikat tali tak kasatmata

pun hari itu aku tahu
batas tak ada pada aku dan kamu
batas adalah antara aku dan kamu, dengan dunia
antara sistem dan lingkungan

tanggal cantik untuk berpisah
untuk mengurai.

sekarang masih hujan jua,
baik di luar maupun di kamar.