hujan

sore itu, menanggal beban sejenak
terdengar nafas stabil, padahal dalam sesak
ditemani musik tak henti riak
menyapa rasa lama ingin teriak

kita bersama lagi
dalam risau dalam ragu
mengalun lagu tua
berlomba dengan hujan

kamu disebelahku,
aku tahu ini hal berat
bersama menatap kosong pada jalan
tak siap usai, pun hujan kala itu

kita harus terhapus
kembali menjadi aku dan kamu
tak boleh lagi ada kita
aku dan kamu sekata

hujan itu reda
mampu
bisa
ya

satu minggu tanpa salam
satu minggu pertama
meski tak ada pagi,
selalu ada yang lain

akulah yang tak tahan, tak kuat, tak mau
meski aku tahu di sana pun kau merana

aku selalu takut waktu ini datang
bodohnya terus berlanjut
tersekap nyaman dan hangat
diikat tali tak kasatmata

pun hari itu aku tahu
batas tak ada pada aku dan kamu
batas adalah antara aku dan kamu, dengan dunia
antara sistem dan lingkungan

tanggal cantik untuk berpisah
untuk mengurai.

sekarang masih hujan jua,
baik di luar maupun di kamar.

Advertisements

purnama

bangun sebelum gelap
terlelap setelah siang
melaga terang
namun gulita

menerka gulita malam
meramal sekitar terang
meninjau rasa
menguji kata

layak purnama dan surya
layak purnama dan laut

tulus ia tak lelah
rela ia tak keluh

itu yang aku tak bisa

aku yang tak tulus
aku yang memecah belah
aku yang kerap memafaatkan

tak sanggup
tangis purnama tertutup awan
sakit purnama ditinggal bintang

tak mampu
cahaya purnama disela dahan
sosok purnama terhalang ranting

hanya tidak lagi mampu
menjadi ideal sepertimu

begitu tulus, rela, lurus.

seperti purnama malam ini.

pulang (3)

aku ingin pulang
sebelum surya bangkit
menjelang ia bangun
dan membakar semua

aku ingin pulang
kala nyata maya sama
waktu biru abu menyaru
puncak laut bersaut

angan
cinta
cita
asa

hanya untuk mereka
para penghuni esok hari

sedang aku terjebak
dalam maya bawah sadar

yang tak yakin hari akan selesai
yang menunggu besok tiada
yang terlelap dalam esai
yang skeptis akan cinta

sedang aku menanti
mati menjadi nyata

menjaga detak
meniup nafas
merela hati
menyeka diri

hingga kala nanti aku berjalan
aku tak pulang dalam sendu
dalam pikir yang terkekang dogma
diolok alam yang homogen

pulang, pulang
pulang, pulang

ulangi.