ulasan : my kopi o’

sedikit pendahuluan. biar ada catetan dikit gitu kalo gue jalan-jalan apa ngafe apa makan.

jadi hari ini, gue pengen ngopi pagi-pagi sambil ngerjain sesuatu gitu. cabut dah gue jalan-jalan naek motor cari coffee shop yang udah buka.

pertama ke sf roastery di rajawali, tapi kayanya masih tutup. btw ini masih bulan puasa hehe. jadi akhirnya ke arah-arah kampus gue, dan nemu deh tempat yang katanya rekomen (rekomen buat gue itu kalo masuk ke feed ig gue karena suka follow akun-akun kuliner). My Kopi O’.

Pas pertama masuk, bingung parkir motor di mana, akhirnya bodo amat parkir aja. gue dateng jam 9.30-an, dan mau mesen kopi yang manual brew. tapi kata masnya baru ada jam 10. yaudah deh gue duduk, buka laptop ngerjain ini itu. drama sih. colokannya beberapa ga nyala jadi harus pindah, wifinya dugstak kadang nyala kadang gelap, dan pas pindah ada air rembesar dari taneman gitu abis disirem kayanya tadi pagi alias becek.

okelah itu gapapa. sisi lainnya, tempatnya bagus. buat gue sih nyaman ya, tapi sayang aja mungkin gue duduk terlalu deket speaker yang eq-nya menurut gue bassnya kegedean. jedug jedug. overall bagus tempatnya, duduknya enak, ada bagian smoking juga di luar.

teng jam 10. mesen dah gue, kopi. pangalengan v60. hehe standar ya maaf kantong cekak. daaaan tebak apa, kopi gue dateng hampir setengah jam kemudian. gue puter tuh, terus gue cium-cum (soksokan paham gitu biar kaya yang sering ngopi). gue tuang deh ke gelas sedikit. masalah rasa kopi, gue rasa banyak yang lebih paham dari gue. masalahnya, saat gue minum, kok rasanya ada bubuk-bubuk gitu ya. ternyata pas gue liat di bawah tempat kopinya, ada bubuknya dong banyak. kan v60 itu pake kertas saring ya ?

mayan kesel. buat tempat yang memasang kata ‘kopi’ sebagai namanya. akhirnya gue panggil masnya, dan minta tanya ke baristanya kok gini. gak lama, gue diinformasiin kalo kopi gue bakal dibikin baru. dann tebak apa (lagi), ternyata kopi gue dateng 8 menit kemudian. secepat itu.

dateng, gue liat lagi tuh bawahnya. masih ada bubuk-bubuk gitu walaupun jumlahnya berkurang. gue yang awam kali ya. sejauh gue beli kopi yang disaring pake v60, gapernah rasanya ada bubuk-bubuk gitu. selalu bening. masalahnya, kalo memang yang pertama salah, ya udah gapapa. tapi ini sampe kedua kali masih gini. saya masih bingung.

sekian review saya.

ini sedikit foto-foto ig story saya yang kesel. hehe

— gajadi. wifinya bahkan gabisa buat ngaplot gambar.

— update. bahkan baristanya saat gue pulang dan bayar gw kasih liat itu bubuk kopi, dia cuma senyum dan, “maaf kak.” ya gapapa, seengganya dia tau dia salah makanya minta maaf 🙂

 

Advertisements

(ng)osjur #2

Tulisan ini untuk kamu, mahasiswa Kimia ITB angkatan 2017.

Sebelumnya, saya ucapkan selamat.
Selamat bergabung menjadi mahasiswa jurusan, selamat melepas status anak TPB, yang terpenting : selamat menjadi bagian dari keluarga Kimia ITB.

Tentu saya bukan mewakili program studi (prodi), namun izinkan saya mewakili HMK ‘AMISCA’ ITB. Perkenalkan saya Christopher Chandra, atau biasa dipanggil Kikis, Lutesium 2015. Selamat datang, para calon unsur-unsur segar untuk AMISCA.

Kamu yang memilih Kimia sebagai pilihan satu, tentunya memang menginginkan berada di sini. Namun untuk kamu yang tidak memilih jurusan Kimia sebagai pilihan satu, jangan berkecil hati. Nyatanya, jurusan kami tidak semenyeramkan yang kalian bayangkan, tetapi lebih. Tenang dulu.

Sedikit bercerita tentang kisah saya selama tingkat dua dan tiga di jurusan, memang jurusan Kimia sangat sibuk, banyak ini itu, mustahilnya saya bisa bertahan hingga sekarang akan memasuki tingkat empat. Saya bukan anak olimpiade, bukan anak juara saat SMA, bukan jua anak >3,5 hehe. Saya hanya anak biasa, yang saat TPB terseok, yang saat di kelas selalu bingung. Namun, saya bertahan.

Apa sebenarnya yang membuat saya bertahan ? Teman-teman. Teman seangkatan, kakak tingkat, bahkan adik tingkat (karena adik tingkat saya kadang lebih paham hehe). Angkatan. Mungkin inilah satu hal yang membuat kuliah dan keorganisasian saya lancar sampai saat ini. Beruntung, saat kami osjur dahulu diingatkan begitu penting tentang angkatan, dan hari ini saya mensyukurinya. Saya memiliki teman yang peduli, teman yang mau dimintai tolong, teman sekadar bermain kartu, bahkan teman dalam kesendirian.

Peran kakak tingkat juga sangat besar. Dari menjadi penutor untuk tutorial sebelum ujian, hingga obrolan-obrolan santai yang akhirnya membuka pikiran. Mereka yang mau meluangkan sedikit waktunya, hanya untuk ditanya-tanya oleh adik tingkatnya yang tak tahu apa-apa ini. Mengajarkan cara berpikir, memberi ilmu ini itu. Tak jarang juga kakak tingkat yang mau mengayomi, menemani, hingga membantu mengerjakan tugas ini itu.

Lalu di mana saya mendapatkan keuntungan itu semua ? Karena tulisan ini bermuatan politis, saya menjawab di himpunan tentunya. Meskipun memang itu jawaban saya. Di himpunan saya mengenal banyak orang, dari kakak tingkat yang masih kuliah, hingga beberapa dosen yang masih suka nongkrong di himpunan. Mengenal kepanitiaan, tentang bagaimana bekerja dalam tim, menjadi ketua suatu bidang, mengatasi masalah, dan manajemen resiko. Mungkin hal ini bisa kamu dapatkan di tempat lain, tapi percayalah : himpunan adalah salah satu tempat yang sangat baik untuk belajar.

Terkadang saya menyendiri, mengandai. Kalau saya tidak rekat dengan angkatan saya, tidak bergabung di himpunan, mungkin saya memiliki banyak sekali waktu luang. Lalu apa ? Bagus kalau saya benar belajar ditiap waktu luang itu, nyatanya tentu tidak. Akhirnya saya sama sekali tidak menyesal mengambil tanggung jawab ini itu di himpunan, walaupun saya tidak memiliki banyak waktu luang, tetapi saya mendapat ‘lebih’. Mahasiswa tak melulu tentang akademik.

Sebelum terlalu banyak membahas ini itu himpunan, saya mengucapkan selamat liburan.

Selamat menikmati libur tiga bulan ini, meskipun baik adanya bila membantu menjadi panitia OSKM 2018 juga.

Tabik,

Christopher Chandra Lu’15

Ketua MPAB HMK ‘AMISCA’ ITB 2018

(ng)osjur #1

pukul 5 sore tadi, resmi saya memberitahu khalayak luas : orang-orang kepercayaan saya yang menjadi satu tim : Panitia MPAB HMK ‘AMISCA’ ITB 2018.

sayangnya, saya tadi menghadiri ibadah pada jam yang tepat sama dengan jam publikasi organogram kami. tentu yang disayangkan jam ibadahnya, karena kami sekeluarga menunda ibadah yang biasa kami lakukan di pagi hari. hehe.

kira-kira beginilah bentuk organogram kami :

4746014.jpg

setelah launching organogram, sudah diprediksikan, akan muncul banyak pertanyaan. mengapa mamet dan korlap ada di setara kadiv lain, mengapa memakai istilah super katalis, maha iod dan dewa radikal, mengapa memakai term grafen, mengapa mamet tidak ada di atas yang lain, katalis ada di bawah siapa, dan masih banyak hal lainnya.

tenang, tulisan saya ini tidak akan menjawab semuanya itu.

terkait penggunaan istilah super, maha, dewa. sejauh ini saya menganggap ketiga kata ini sebagai “yang memimpin”. lalu, mengapa saya menggunakannya lagi ? dari mana turunnya ? sejujurnya saya agak kecewa dengan pertanyaan seperti ini. membuktikan bahwa saya salah sangka sejak dahulu kala saat saya mengikuti MPAB pertama saya.

dahulu, saya menganggap, “wah ini budaya AMISCA”. sama seperti mengapa ada push-up unsur, mengapa massa AMISCA menghitung menggunakan unsur, mengapa kami dituntut menghafal teman kami seangkatan beserta unsurnya. nyatanya tidak. hal ini bukan dari budaya AMISCA.

saat MPAB kedua saya tahun 2017, ada istilah baru. grafen sebagai kata ganti moderator. namun sayang, kata-kata super katalis, maha iod, dan dewa radikal tidak dicantumkan melainkan diganti dengan danlap mentor, danlap medik, dan danlap keamanan. dan anak 2016 mengetahui super katalis, maha iod, dan dewa radikal hanya dari mulut ke mulut saja, tidak secara jelas ditulis.

dan saat saya ditanya bagaimana alur berpikirnya untuk menggunakan nama-nama tersebut kembali, mungkin alasan saya hanya satu. saya ingin menjadikan ini budaya MPAB AMISCA. sayang rasanya saya mengalami tiga kali MPAB dan semuanya memiliki hal-hal yang sebegitu dasarnya berbeda-beda istilah. saya ingin menjadikannya sebagai ciri khas. mengapa setuju menggunakan kata-kata itu ? ya karena namanya sesuai fungsinya. mengepalai bagiannya.

singkatnya, saya rasa ini hal baik dan perlu diteruskan.

pertanyaan-pertanyaan lainnya mungkin saya jawab kemudian (r: saya dan tim masih perlu untuk membicarakan hal ini)

Christopher Chandra Lu’15